Keesokan paginya, sinar matahari kembali masuk melalui celah tirai. Indira terbangun lebih dulu, merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik. Pegal-pegalnya berkurang drastis. Ia menoleh, Bara masih terlelap pulas di sampingnya. Wajahnya teduh, bibirnya sedikit mengembang seperti sedang mimpi indah.Indira tersenyum, lalu menggerakkan tangan untuk menyentuh wajah Bara pelan-pelan. Baru saja ujung jarinya menyentuh pipi Bara, tiba-tiba tangan Bara bergerak cepat menangkap tangannya."Uggh," suara Bara serak, matanya masih terpejam. "Bangunin suami pagi-pagi, mau diapain?"Indira terkikik. "Mau dibangunin, kali. Udah jam delapan, Mas."Bara membuka sebelah matanya. "Jam delapan? Wah, berarti udah telat. Telat ngurusin istri."Indira memukul dada Bara pelan. "Awas, ya. Aku udah baikan, nih. Udah bisa jalan.""Oh, ya?" Bara langsung membuka kedua matanya, duduk bersandar. "Berarti udah bisa diajak jalan-jalan?"Indira mengangguk semangat. "Bisa! Mau kemana, Mas?"Bara berpikir sejenak. "Gimana
Baca selengkapnya