Eva berdiri di pintu masuk restoran dengan gaun sutra berwarna marun yang tampak terlalu mewah untuk sekadar datang tanpa undangan. Rambutnya tersisir rapi, riasan wajahnya sempurna, namun ekspresinya, ada sesuatu yang pecah di balik kemarahannya. Radit yang baru saja mengantar beberapa tamu terakhir langsung membeku. Ia menoleh ke Mayang yang sedang merapikan meja, lalu kembali menatap ke arah mantan ibu mertuanya.“Bu, ini bukan waktunya,” kata Radit dengan suara rendah, berusaha tetap tenang.“Bukan waktunya?” Eva melangkah masuk, tumit tingginya berbunyi tegas di lantai marmer. “Celine cucu saya. Darah daging saya. Saya punya hak untuk hadir di hari ulang tahunnya. Tapi kamu sengaja menutup-nutupi acara ini dariku. Kamu pikir saya tidak akan tahu?”Mayang menghampiri dengan ekspresi waswas. “Bu Eva, sebenarnya Radit sudah bilang...”“Diam, Bu Mayang!” potong Eva tanpa menoleh. Matanya tetap tertuju pada Radit. “Kamu tidak pernah berubah, Radit. Sejak dulu kamu selalu ingin menjauh
Read more