Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ruang kerja Leon tidak terasa seperti markas perang. Tidak ada peta, tidak ada laporan berdarah, tidak ada suara langkah tergesa pengawal.Hanya ada napas dua orang yang saling bertaut dalam diam.Elena terbangun lebih dulu. Kepalanya masih bersandar di sandaran sofa, sementara Leon—pemimpin klan yang ditakuti banyak orang, masih tertidur dengan kepala di pangkuannya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, wajahnya jauh lebih muda tanpa ekspresi tegang yang biasa menghuni rahangnya.Tangannya masih menggenggam ujung gaun Elena, seolah takut ia akan menghilang jika dilepaskan.Elena tersenyum tipis.Perlahan, ia menyentuh pipi Leon. Hangat. Nyata. Bukan mimpi.Leon mengerang pelan sebelum akhirnya membuka mata. Tatapannya yang tajam butuh beberapa detik untuk kembali fokus, dan saat ia menyadari posisinya, ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya—bukan malu, bukan canggung. Tapi tenang.“Sudah pagi?” suaranya berat, masih setengah terjaga.“S
Read more