Setelah beberapa saat...."Masuk," perintah Leon. Suaranya tidak lagi menggelegar, namun nada datar itu membawa otoritas yang tidak bisa dibantah.Elena melangkah dengan kaki gemetar. Kamar itu sangat indah, didominasi warna abu-abu arang dan aksen emas tersembunyi. Tempat tidur ukuran king dengan sprei sutra hitam tampak seperti altar yang menunggu kurban. Di atas nakas, sebuah vas kristal berisi mawar merah darah yang kelopaknya mulai layu, seolah mencerminkan kondisi Elena saat ini.Leon menutup pintu ganda yang berat itu dengan bunyi klik yang final. Ia melepaskan jasnya, membiarkannya jatuh ke lantai begitu saja, lalu mulai melonggarkan dasinya. Gerakannya tenang, presisi, dan sangat predator."Leon... kumohon," bisik Elena, suaranya parau karena terlalu banyak menangis. "Jika kamu ingin membunuhku, lakukan sekarang."Leon berhenti. Ia memutar tubuhnya, menatap Elena yang berdiri di tengah ruangan, tampak kecil dan rapuh dalam balutan gaun yang sudah koyak di bagian bahunya. Pria
Dernière mise à jour : 2026-01-24 Read More