Klik.Bunyi itu kecil, hampir tak terdengar di tengah gemuruh baling-baling dan jerit sirene yang saling kejar. Tapi bagi Leon, bunyi itu adalah dunia yang runtuh menjadi satu titik.Waktu seperti melambat. Detonator di lantai tak meledak. Lampu hijau itu justru berhenti berkedip—mati sejenak, seperti menarik napas.Leon tidak berpikir. Ia bertindak.Ia menyambar detonator itu dan melemparkannya sejauh mungkin ke arah luar gedung, ke jurang kota yang berkilau. Dalam detik yang sama, ia merengkuh Elena, memutar tubuhnya, dan menekan punggungnya ke lantai beton, menutupi kepala wanita itu dengan lengannya sendiri.Ledakan tidak datang dari bawah.Ledakan datang dari kejauhan.Suara dentumannya tidak tunggal, melainkan berlapis-lapis, menyebar seperti riak air di kolam raksasa. Kaca-kaca gedung di sekeliling bergetar. Lampu-lampu padam lalu menyala lagi, berkedip panik. Helikopter oleng di udara, lampu sorotnya menari liar sebelum akhirnya menjauh, seperti serangga yang ketakutan.Leon m
Terakhir Diperbarui : 2025-12-28 Baca selengkapnya