Angin laut masih berdenyut di pipi Elena, namun hawa dingin yang sebenarnya berasal dari pilihan yang baru saja disodorkan Romanov. Ia berdiri di dek, menatap siluet Leon yang terpantul samar di balik kaca. Pria itu adalah jaring pengaman, sekaligus sangkar emas. Andrian, di sisinya, adalah jurang yang memanggil.“Mungkin kita harus kembali ke dalam,” suara Andrian memecah keheningan. Nadanya tenang, namun ada urgensi yang tak terucap. “Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”Elena menoleh, matanya menelisik wajah Andrian Romanov. Tidak ada senyum licik, hanya tatapan yang begitu dalam hingga seolah melihat langsung ke jiwanya. Ia mengangguk.Mereka kembali melewati lorong yang sama, denting gelas dan tawa palsu kembali menyambut. Namun, Andrian tidak membawa Elena kembali ke aula utama. Ia memimpin ke sebuah koridor tersembunyi di buritan kapal, di mana suara musik dan keramaian meredup, digantikan oleh keheningan yang lebih pribadi. Sebuah pintu kayu gelap dengan ukiran ru
Terakhir Diperbarui : 2026-01-09 Baca selengkapnya