"Minum obatnya dan kembali istirahat." Kalimat itu terucap dari bibir Dylan, bersamaan dengannya meletakkan beberapa butir obat di hadapan Viony. Gadis itu segera meminumnya dengan cepat, berharap demamnya segara turun. "Viony, kalau kau sembuh, aku akan mengajakmu ke pameran kota minggu depan," ujar Levino tersenyum manis menatap gadis itu. "Iya, Levino. Tapi tunggu Papaku sembuh," jawab Viony tampak sedikit murung. "Jangan sedih ... aku ada di sini denganmu, kalau kau butuh apapun, aku—""Pulanglah, Lev!" seru Dylan tiba-tiba. Ia menatap sang adik yang terkejut mendengarnya. Tak hanya Levino, bahkan Viony langsung ikut menoleh dan menatapnya serius. "Ke-kenapa, Kak?" tanya Viony menatap Dylan yang tiba-tiba mengusir adiknya. "Kau harus istirahat," jawabnya. "Tapi, aku sudah baikan, Kak Dylan...." "Viony tidak masalah, kenapa Kakak yang sewot?!" pekik Levino, sebal ia pada Dylan. Tanpa basa-basi, Dylan beranjak dari duduknya dan merangkul Viony diajaknya bangun. Dengan pe
Last Updated : 2026-02-16 Read more