Hubungan yang semula hanya dilandasi kepalsuan berangsur-angsur berubah menjadi sesuatu yang hangat. Hari demi hari, dinding yang selama ini membatasi keduanya perlahan runtuh tanpa mereka sadari.Setiap pukul lima sore, Dara sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum manis yang selalu berhasil menyambut kepulangan Satya. Kadang ia mengenakan gaun sederhana berwarna pastel, kadang hanya kaus rumahan dengan celemek masih terikat di pinggang. Namun, bagi Satya, pemandangan itu selalu menjadi hal yang paling ia rindukan setelah seharian berkutat dengan pekerjaan."Akhirnya pulang juga," ucap Dara ceria, mengambil tas kerja dari tangan suaminya."Menungguku lagi?" tanya Satya sambil tersenyum tipis."Memangnya boleh aku berhenti menunggu?"Pertanyaan itu membuat langkah Satya terhenti sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang semakin nyata. "Boleh ... kalau sudah bosan."Dara menggeleng cepat. "Aku belum menemukan alasan untuk bosan."Kalimat sederhana itu menghangatkan ha
Read more