Nero menatap Nathaniel dengan curiga. "Kamu diam-diam suka padaku?"Nathaniel mengangkat tangan dan menepuk belakang kepala Nero. "Diam."Nero kesakitan menggaruk-garuk kepalanya. "Kalau mau ngomong, cepat katakan. Di kamarku ada orang."Nathaniel bersin sedikit. "Nah… waktu itu, sebelum aku masuk akademi militer, kakekku memaksaku untuk membekukan sperma, katanya supaya bisa meninggalkan keturunan untuk Keluarga Alvaro, 'kan?"Nero mengangguk. "Aku tahu, bukankah lalu Sion lahir?"Nathaniel menarik napas panjang. "Begini ceritanya, kakekku, makin dia menekanku, makin aku memberontak. Sama seperti kakakmu, makin dia mengaturmu dengan ketat, makin kamu tidak pilih-pilih antara pria dan wanita, 'kan?"Nero makin curiga. "Nathaniel, sejak kapan kamu jadi sok bijak begini?"Nathaniel menggigit gerahamnya. "Hari itu aku sebenarnya bukan mau ke kamar hotel untuk menemuimu, tapi asisten kakekku membuatku terdesak. Aku lalu asal ambil kondom dari lantai… dan memberikannya padanya."Nero membuk
続きを読む