“Ca, waktu itu … kamu sempat salah kirim pesan ke nomor saya. Kamu bilang, harusnya kirim ke Revan. Saya sempat baca, ‘besok Senin mau lagi’.” Atasan Caca—Pak Dimas, menaikkan sebelah alis, menatap Caca tajam hingga Caca merasa seperti terpojok di lorong yang buntu.Punggung Caca seketika menegang.“Bisa kamu jelasin, maksudnya apa?” lanjut Pak Dimas lagi, nadanya dingin, seakan menghakimi.Caca menunduk. Suaranya bergetar saat dia membuka mulut, “Saya … saya nggak bermaksud kirim pesan itu untuk Bapak, Pak. Sumpah.”“Saya tahu.” Pak Dimas memotong. Suaranya lekas membuat Caca menoleh. Pria itu berdiri sambil menarik napas panjang. Langkahnya diayun tenang memunggungi Caca, badannya kini menghadap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Pria itu bergeming sejenak, seperti sedang mengumpulkan kata-kata yang tidak biasa dia ucapkan.“Ca, saya mau tanya sesuatu.” Setelah keheningan memerangkap, Pak Dimas menoleh, menatap Caca lurus. “Dan saya butuh jaw
Last Updated : 2026-01-02 Read more