Cahaya keemasan mentari pagi yang baru menembus jendela tinggi, memantulkan sinarnya pada interior megah ruang kerja Dr. Bima. Meja jati kokoh yang diletakkan di tengah ruangan menampilkan desain minimalis namun elegan, dihiasi perangkat komunikasi canggih dan tumpukan berkas yang tertata rapi. Aroma kopi baru menyebar tipis, namun ketenangan itu semu. Dr. Bima, dalam jas kerjanya yang mahal, duduk tegak di kursinya, tatapannya tajam. Di sofa depan, dengan postur tegap yang serupa, duduk Dr. Alvin, wakil direktur Rumah Sakit Cendekia Medika, lengan kanannya yang setia dan cekatan. Kehadiran Alvin menambahkan lapisan gravitasi pada suasana yang sudah mencekam.“Panggil Dokter Residen Vito, sekarang,” perintah Dr. Bima, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. Tanpa sepatah kata, Alvin mengangguk, mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, dan menelepon. Dalam hitungan menit, arahan itu terlaksana.Pintu terbuka dengan gesekan pelan, dan Dr. Vito melangkah masuk. Eksp
Last Updated : 2025-10-22 Read more