MasukKantin belakang Rumah Sakit Cendikia Medika adalah tempat paling nyaman kalau kamu ingin menyendiri, atau paling tidak, merasa sendirian. Malam ini, seolah sengaja ikut sunyi, lampu-lampu di sana juga tampak meredup, hanya menyisakan beberapa cahaya remang-remang yang menerangi deretan meja dan kursi. Tapi bukan kesunyian itu yang dicari tiga residen bedah yang duduk di salah satu sudut, wajah mereka lebih tegang daripada benang operasi yang ditarik maksimal.Kaiden baru saja menurunkan ponselnya, raut wajahnya makin kusut seperti sarung bantal yang belum disetrika selama seminggu. Kevin, yang masih dalam tahap pemulihan pasca-pembedahan ringan gara-gara 'kejadian itu', barusan menelepon dari kamarnya, menagih laporan dan sedikit banyak mengeluh soal strateginya yang meleset jauh."Gila, sumpah deh, gila," Kaiden mengeluh sambil mengusap wajahnya kasar, tangannya lalu meremas punggung leher. "Jebakan yang kita buat tempo hari malah jadi senjata makan tuan, Bro. Kevin bilang rencananya
Puncak malam itu seperti menelan segala cerita dan menyembunyikannya di balik selimut kabut yang pekat. Udara dingin merayap masuk ke celah-celah mobil, seolah ingin ikut merasakan ketegangan yang menggantung di dalamnya. Turun dari puncak menuju kota, suasana dalam masing-masing mobil terasa sangat mencekam. Lampu jalan yang remang-remang sesekali menembus tirai putih itu, tapi tak cukup terang untuk menerangi kekalutan pikiran setiap orang yang terlibat dalam drama di villa tadi. Ketegangan yang tak terucap, seperti kabut itu, mengaburkan segalanya.Di mobil keluarga Mahawira, Toyota Land Cruiser hitam yang senyap, Nana Lidwina sesekali melirik Alvin yang duduk di kursi pengemudi. Jemari Alvin terlihat kencang meremas kemudi, seperti menahan beban yang berat. Raut wajahnya tegang, alisnya bertaut, dan matanya terus-menerus melirik kaca spion tengah, seolah ingin memastikan mobil Bima yang membawa Lidya. Gerak-gerik Alvin bukan seperti pria yang baru saja membahas masalah serius soal
Di dalam villa yang sunyi, di antara rintik gerimis yang membasahi jendela kaca dan selubung kabut yang merangkul lereng Puncak, waktu seakan membeku dalam kehampaan yang ironis. Alvin dan Lidya, tak terpisahkan dalam dekapan momen yang membebaskan, tenggelam dalam ciuman yang membara. Bukan sekadar sentuhan bibir, melainkan pelepasan segala rindu yang tertimbun, rahasia yang terbelenggu, dan kerentanan yang akhirnya diizinkan untuk terungkap. Sensasi hangat nan memabukkan itu menjadi titik kulminasi dari pengakuan yang pahit, namun jujur, yang baru saja mereka bagi. Dalam kebisuan yang disela oleh deru napas yang memburu, ikatan yang telah lama tertunda seintens itu kini mendapatkan jedanya.Namun, kedamaian fana itu hancur berantakan dalam sekejap. Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang semakin mendekat dari halaman depan villa merobek kesunyian. Deruman berat itu bergeser dari samar-samar menjadi kian nyata, seolah mendekap mereka dalam kepanikan yang terpaksa.Lidy
Gejolak di dada Alvin rasanya sudah tidak bisa lagi ia tahan. Setiap embusan napas Lidya yang lewat di dekatnya seperti jeritan yang memanggil nama masa lalu, nama yang selama ini mati-matian ia kubur dalam-dalam. Melihat Lidya melangkah santai menuju kasir di supermarket itu, seolah semua baik-baik saja, memicu sesuatu dalam dirinya. Cukup sudah. Drama ini harus segera diakhiri. Bukan begini caranya hidup disiksa, memendam semuanya sendiri.Tanpa pikir panjang, Alvin langsung menyambar langkah Lidya. Gerakannya cepat, sigap, dan penuh determinasi. "Lidya!" panggilnya, suaranya tercekat oleh emosi yang membuncah.Lidya berbalik, raut terkejut jelas terukir di wajahnya. Sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, Alvin sudah mencengkeram lengannya dengan sedikit paksa—tidak menyakiti, tapi cukup untuk mengirim pesan agar Lidya tak lagi melawan. Ia menarik Lidya, membawanya dengan cepat keluar dari keramaian supermarket, melewati lorong-lorong mal yang padat, dan
Pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat siang itu cukup ramai, hiruk-pikuk suara langkah kaki dan obrolan menyatu dalam orkestra kota yang tak pernah tidur. Namun, di sudut baby shop yang tenang, dikelilingi warna-warna pastel yang menenangkan, Lidya sedang asyik memilih pakaian bayi dengan sentuhan netral. Sebuah setelan berbahan katun lembut berwarna krem dengan bordiran beruang kecil menarik perhatiannya. Tangannya meraba halus kain itu, sesekali membayangkan seperti apa rasanya jika suatu hari nanti, jemari mungil anaknya akan menggenggamnya. Tanpa Bima yang sedang berjibaku dengan restrukturisasi besar-besaran di Cendikia Medika, Lidya mencoba menikmati waktunya sendiri—sebuah pelarian kecil yang langka dari ketegangan rumah tangga yang belum juga usai, dan hiruk-pikuk rumah sakit yang selalu terasa melelahkan. Dia hanya ingin fokus pada sesuatu yang sederhana, yang penuh harapan.Sementara itu, di sebuah kafe butik yang letaknya persis berseberangan dengan toko perlengkapan bayi ter
Darren Wisesa bukan tipe yang mudah terpancing emosi, apalagi sampai meledak-ledak di depan umum seperti yang dulu sering Kevin lakukan. Kevin itu terlalu frontal, terlalu gampang ditebak. Sementara Darren? Ia lebih suka jadi pemangsa yang bersembunyi di kegelapan, mengamati setiap celah dan kelemahan sebelum melancarkan serangan mematikan. Sekarang, walaupun resminya ia menduduki kursi Direktur Operasional Lapangan Cendikia Medika, ia tahu persis kalau tanpa sekutu yang kuat di tingkat staf eksekutif, posisinya itu cuma pajangan. Selembar sertifikat fancy di tengah kepungan orang-orangnya Bima Adnyana. Omong kosong namanya.Sore itu, aroma kopi Arabika menyeruak dari sebuah kafe tersembunyi, jauh dari hingar-bingar pusat Cendikia Medika yang penuh intrik. Tempatnya remang-remang, pas untuk percakapan yang sebaiknya tidak didengar orang lain. Darren duduk tenang di salah satu sudut, matanya memicing menatap dua sosok di hadapannya: Surya Baskara Hardiwan, kepala komite medis






![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
