Khalisa memejamkan matanya sesaat. Langkahnya sempat terhenti di depan teras rumah ketika kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Laila terdengar begitu tajam menusuk. Wanita itu berdiri di luar pagar dengan wajah memerah dipenuhi amarah dan frustrasi."Saya doakan hidup kamu tidak bahagia, Khalisa! Semoga kamu mandul! Semoga usaha kamu bangkrut! Semoga kamu merasakan lebih sakit dari yang saya rasakan sekarang!"Suara Laila menggema di halaman yang mulai sunyi. Arini langsung panik dan berusaha menenangkan ibunya."Bu... sudah, Bu."Namun Laila sudah kehilangan kendali. Semua kesulitan yang menimpanya kini seolah dilampiaskan kepada Khalisa. Sementara itu, Khalisa tetap berdiri membelakangi mereka. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut, melainkan karena tidak menyangka perempuan yang pernah begitu ia hormati sebagai ibu mertua mampu mengucapkan doa-doa buruk seperti itu kepadanya.Perlahan Khalisa membuka matanya. Ia tidak berbalik, tidak membalas, dan tidak pula menangis. Ia hanya
Read more