Dimas langsung melihat ke arah Maura, matanya berkaca-kaca dengan air mata yang menahan diri. Ia berusaha mendekat, langkahnya terengah-engah dan kaki-kakinya terasa lemah seolah tidak bisa menopang berat tubuhnya. Jas hitamnya sudah kusut, dasinya terlepas sedikit dari kerah bajunya, dan wajahnya tampak pucat tanpa warna. "Maura ... Sayang ..." panggilnya dengan suara yang serak, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan malam. "Aku mohon maafkan aku ... tolong jangan tinggalkan aku ... kita bisa menyelesaikan ini bersama, kan? Aku akan berubah, aku janji!" Dimas melangkah lebih jauh, hendak meraih tangan Maura yang masih terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalan. Namun sebelum jarinya bisa menyentuh pakaiannya, tangan kuat Revan menahannya. "Dimas," ucap Revan dengan suara yang tenang, tidak ada rasa kemarahan di wajahnya, hanya kesadaran bahwa saatnya sudah tiba untuk mengakhiri segalanya. "Kak Revan?!" ucap Dimas kaget, tidak menyangka bahwa kakaknya sendiri yang menghalan
Last Updated : 2026-02-03 Read more