Nabila menutup mulutnya, berusaha menahan gelombang mual yang datang tiba-tiba. Ia melihat tatapan kaget Maura, lalu berusaha tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Kak, mungkin aku hanya masuk angin karena semalaman menjaga Kakak," kilahnya, suaranya sedikit bergetar. Maura mengerutkan kening, menatap Nabila skeptis. Ia tahu betul bagaimana rasanya mual karena kehamilan. Namun, ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. "Ya sudah, kamu istirahat saja." "Iya, Kak, tapi aku ada kelas sore ini," jawab Nabila, masih berusaha terlihat baik-baik saja. "Tapi kamu kelihatan tidak sehat." Maura bersikeras, mengamati wajah Nabila yang pucat. Nabila melangkah mendekat, menggenggam tangan Maura erat. "Kakak tenang saja, aku tidak apa-apa, mungkin aku hanya kecapean saja karena belum tidur," katanya, mencoba meyakinkan Maura dan dirinya sendiri. Maura menghela napas, melepaskan genggaman Nabila perlahan. "Ya sudah, tapi kamu harus tetap jaga kesehatan, ya." "Baik, Kak, Kakak juga. Aku perg
Terakhir Diperbarui : 2026-01-01 Baca selengkapnya