Sam menghembuskan napas panjang, dahinya menempel di bahuku. “Maaf,” lirihku. Dari nada deringnya, jelas itu panggilan masuk ke ponselku."Bukan salahmu, jangan selalu minta maaf."Ya, dia benar. Karena tampaknya di sini, akulah yang lebih kecewa keintiman itu terusik. Kami saling menatap sejenak sebelum saling melepaskan. Aku tersenyum kecil, meski dengan dada yang masih berdebar. Dalam hati membatin setengah kesal, "Kadang dunia memang tidak sabar.”Sam menjauh setengah langkah, menatapku dengan campuran penyesalan dan janji semua baik-baik saja. Aku lekas meninggalkan kolam dan meraih jubah mandiku. Jemariku langsung menekan tombol tanpa menatap layar terlalu lama. Sudah jelas itu panggilan dari ibuku.“Ya, Bu?” suaraku kembali terkendali. Menyembunyikan fakta bahwa tubuhku menggigil setelah meninggalkan air kolam. Atau lebih tepatnya, setelah meninggalkan pelukan Sam.“Kau di mana?” suaranya langsung menukik, curiga. “Sudah malam. Kapan kau pulang?”Aku menelan ludah, melirik ke
Terakhir Diperbarui : 2026-01-15 Baca selengkapnya