Sendok yang kupegang terlepas dari genggamanku, menimbulkan denting kecil. Aku merasa oksigen di sekitarku mendadak menipis dan sulit kuhirup.Sementara itu, Cindy langsung bangkit menyambut. Gerakannya sigap, seolah momen ini memang sudah dia tunggu sejak awal.“Akhirnya kau datang juga, Sofia sudah menunggumu untuk berkenalan.” Cindy menunjuk ke arah Sofia, senyumnya terpasang rapi. Namun tatapan Irish tidak bergerak ke sana. Matanya masih tertahan padaku. Dingin dan tajam. Ada sesuatu di sana yang membuat tengkukku terasa kaku.“Ayo duduk, kami akan suruh pelayan membawa menu untukmu,” lanjut Cindy, suaranya sangat ramah kali ini.“Tidak perlu, Tante… selera makanku sudah hilang.” Irish akhirnya mengalihkan pandangan dariku, matanya menyapu wajah-wajah di meja itu satu per satu. Dia tampak canggung, seperti orang yang salah masuk ruangan. “Sepertinya ini acara khusus, aku mungkin mengganggu?”“Oh, tentu tidak. Ini hanya makan malam biasa.” Cindy menukas cepat. “Audrey tidak memberi
Terakhir Diperbarui : 2026-01-29 Baca selengkapnya