“Jangan pilih aku, Sean,” pintaku dalam hati.Kepalaku menggeleng pelan ke arahnya. Gerakan kecil itu hampir tak terlihat, tapi aku berharap dia mengerti. Jangan seret dirimu lebih jauh. Jangan hancurkan hidupmu karena kesalahanku.Sean menatapku lama. Tatapannya berat, seperti mencari jawaban di wajahku. Lalu dia menghela napas dan menoleh pada ibunya.“Bu, aku tidak bisa memilih,” katanya pelan. “Kalian semua berarti untukku.”Dadaku langsung terasa longgar. Aku menutup mata sejenak, menghela napas yang sejak tadi tertahan. Setidaknya… untuk saat ini dia membuat keputusan tepat.“Tapi,” lanjut Sean.Tubuhku kembali menegang.“Aku tetap tidak bisa mengingkari janjiku padanya.”Aku tercekat. Janji? Janji apa yang dia maksud? Kenapa dia mengada-ada?“Bagus,” desis Ibu puas dari sampingku.Sementara itu, Cindy terpaku. Tangannya mengepal kuat sampai buku jarinya memutih. Matanya menatap Sean tanpa berkedip.Aku menunduk dan menekan keningku pelan. Astaga, Sean… kenapa kau lakukan ini?“
Terakhir Diperbarui : 2026-02-09 Baca selengkapnya