Seolah melupakan selang infus di tangannya, Moza mencoba bangkit untuk menyambut putranya.Namun, Elbara sudah lebih dulu melangkah cepat. Ia mendudukkan Kayden di tepi brankar."Kayden baik-baik saja, Moza," ujar Elbara menenangkan.Moza segera mendekap Kayden di dadanya. Tangisnya pecah lagi, tetapi kali ini adalah tangis kebahagiaan. Ia menciumi seluruh wajah Kayden, menghirup aroma rambut putranya yang sangat ia rindukan."Mama... jangan menangis. Kayden sudah bangun," bisik Kayden polos, jemari kecilnya menghapus air mata di pipi Moza.Melihat pemandangan mengharukan itu, Rezon, Izora, dan Wulan hanya bisa berdiri dengan mata berkaca-kaca. Mereka bisa memahami betapa seorang ibu tidak dapat berpisah lama dari anaknya.Namun, di tengah kebahagiaan itu, Moza mendongak menatap Elbara dengan sorot sendu."Di mana Dastan, Bara? Di mana suamiku?"“Kak Dastan sedang dalam perjalanan kemari. Tunggu saja, dia akan segera datang.”Mengetahui suaminya juga selamat, ketegangan di bahu Moza
Read more