LOGINUsai menonton film, Rezon menuntun Izora menuju sebuah restoran Jepang premium yang berada di lantai atas mal.Rezon memesan sushi dan daging wagyu terbaik. Ia juga meminta pelayan membawakan semua jenis hidangan penutup. "Makanlah sepuasmu, Izora. Aku ingin melihatmu kembali berenergi, setelah ketakutan di dalam bioskop," ujar Rezon bersemangat.Izora menatap tumpukan daging di depannya dengan mata berbinar. "Kau ingin membuatku gemuk?""Aku ingin membuatmu bahagia," balas Rezon dengan kedipan mata.Selepas makan siang menjelang sore yang mengenyangkan, Rezon tidak langsung membawa Izora pulang. Ia meminta gadis itu mengemudikan mobilnya, menuju sebuah area perbukitan di pinggiran kota. Taman itu menghadap langsung ke pemandangan kota dari ketinggian. Di tengah taman, terdapat beberapa gazebo kayu yang dihiasi lampu-lampu kecil."Ini tempat aku pergi merenung, ketika pikiranku kusut," tutur Rezon, saat mereka melangkah masuk ke gazebo.Setelah duduk, Rezon membuka tas yang ia bawa
Rezon sedang duduk tegak di ruang sterilisasi di Rumah Sakit Limantara. Ia menatap tangan kanannya yang masih terbungkus perban putih. Di sampingnya, Izora berdiri dengan setia, sesekali merapikan bajunya untuk menghilangkan rasa gugup.Hari ini adalah momen yang dinantikan Rezon, setelah lebih dari dua minggu harus menahan diri dari aktivitas yang berat.Dokter Christopher, salah satu dokter senior yang juga merupakan bawahan kepercayaan Rezon, mulai menggunting kain kasa itu dengan hati-hati. Lapisan demi lapisan perban terlepas, menyingkap bekas luka yang kini sudah mengering sempurna.Begitu perban sudah tanggal, Rezon perlahan menggerakkan jemarinya. Ia mengepal, lalu membuka telapak tangannya berkali-kali. Senyum lega langsung terbit di wajahnya. "Bebas juga akhirnya," gumam Rezon pelan. Ia menoleh ke arah Christopher. "Jadi, Christopher, kapan aku bisa kembali ke ruang operasi? Jadwal bedah sudah menumpuk."Christopher memeriksa elastisitas kulit dan kekuatan otot tangan Rezon
Ciuman itu terasa begitu memabukkan, seolah-olah waktu di dalam kamar hotel berhenti berputar. Brielle bisa merasakan kehangatan napas Elzen dan debaran jantung pria itu yang seirama dengan miliknya. Namun, tepat saat suasana menjadi semakin intens, Elzen justru tiba-tiba menarik diri. Ia melepaskan tautan bibir mereka dengan lembut.Brielle terkesiap, matanya terbuka perlahan dengan binar yang masih tampak linglung. Ada sedikit rasa kehilangan yang tersirat di wajahnya, saat dekapan Elzen sedikit merenggang.Elzen menarik napas panjang yang tersengal, mencoba menenangkan gejolak di dalam dadanya.Ia menangkup wajah cantik Brielle dengan kedua tangan. Ibu jarinya mengusap bibir gadis itu yang basah dan sedikit bengkak."Aku harus mengakhiri ini sekarang, sebelum aku menginginkan lebih darimu," bisik Elzen dengan suara serak."Aku sudah berjanji pada diriku sendiri... aku akan menjagamu dengan terhormat sampai kita menikah di depan altar."Brielle tertegun. Jantungnya serasa berhenti
Di dalam kamar hotel itu, keheningan terasa begitu berat. Brielle menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang berkecamuk. Kalimat Elzen masih terngiang jelas di telinganya, menawarkan sebuah perlindungan yang selama ini ia dambakan sekaligus ia takuti.Melihat Brielle masih memandangnya dengan keraguan yang nyata, Elzen bergeser lebih dekat. "Aku serius mengatakan ini padamu, Brielle. Aku akan melindungimu dalam setiap perjalananmu, bila kau mengizinkan aku melakukannya," bisik Elzen, suaranya terdengar tulus di tengah kesunyian malam.Brielle menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang liar."Elzen... terima kasih atas niat baikmu. Tapi, kita baru bertemu beberapa hari yang lalu dalam situasi yang sangat aneh. Aku tidak mau merepotkanmu dengan urusan pribadiku."Brielle menjeda, lantas menatap Elzen dengan sendu. "Lagi pula, aku tahu kau tidak suka terikat dengan satu wanita. Jadi, lebih baik aku tetap pergi ke Vienne sendirian. Selamat tidur, Kapten."Tan
Kamar hotel yang mereka sewa berukuran sedang. Ada sebuah perapian kecil yang sudah menyala, memberikan kehangatan instan bagi tubuh mereka yang menggigil."Mandilah dulu dan ganti baju. Aku akan tunggu di balkon sampai kau selesai," kata Elzen, menunjukkan sisi ksatria yang sebenarnya.Brielle mengangguk pelan. Ia mengambil koper miliknya, mengeluarkan sebuah gaun tidur panjang yang sopan dan pakaian dalam bersih. Di dalam kamar mandi, Brielle menikmati guyuran air hangat yang melunturkan debu dari situs Cybele.Setelah hampir tiga puluh menit, ia keluar dengan rambut panjang yang sudah dikeringkan sebagian.Tak disangka, di atas meja dekat perapian, telah tersedia dua cangkir teh hangat yang mengepul. Elzen menyeduhnya menggunakan fasilitas hotel."Minumlah, Brielle. Sekarang giliranku mandi," ujar Elzen sambil menyambar tasnya.Brielle duduk di tepi tempat tidur, menyesap teh itu perlahan. Rasa hangat menjalar ke dadanya, membuat hatinya merasa jauh lebih tenang. Namun, sepuluh m
Hujan di luar reruntuhan mulai mereda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari celah-celah batu. Di dalam kesunyian, Brielle memandang Elzen dengan tatapan yang sulit diartikan. Meskipun hatinya bergetar karena pengakuan pria itu, sisi logisnya segera membangun benteng pertahanan."Kau pasti sudah mengatakan hal yang mirip begini kepada puluhan wanita, Kapten," ujar Brielle dengan nada getir, mencoba menutupi kegugupannya. "Tapi maaf, rayuanmu tidak akan mempan padaku. Aku bukan salah satu dari penggemarmu di bandara."Elzen terdiam sejenak, menatap lekat ke dalam mata Brielle. Senyum miring yang biasanya menghiasi wajahnya menghilang, digantikan oleh ekspresi yang jauh lebih serius. "Kau sok tahu sekali, Nona. Harus kuakui, banyak wanita yang terlena oleh ucapanku, itu fakta yang tidak bisa kubantah. Tapi kalimat yang baru saja kuucapkan, itu belum pernah kukatakan pada siapa pun, selain kau."Brielle mendengus, memalingkan wajahnya ke arah rintik hujan yang tersisa. "Aku tid
Langkah kaki Izora terasa berat saat ia menapaki teras rumahnya. Skorsing yang dijatuhkan oleh Wakil Kepala Rumah Sakit terasa bagai hantaman bagi karier yang ia bangun dengan tetesan keringat. Namun, yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa keberadaannya kini hanya menjadi beban bagi orang-o
Hati Izora terasa lapang dan tenang, saat ia memarkirkan sepeda motornya di pelataran parkir rumah sakit. Izora melepas helm dengan gerakan perlahan, sengaja membiarkan angin menerpa wajahnya.Pagi ini, saat ia meninggalkan apartemen Rezon, suasana di sana jauh lebih terkendali. Ia sempat bertemu se
Aya mengatur napasnya sejenak, menekan semua rasa was-was yang mendera."Iya, ini saya, Cahaya," jawab Aya berusaha menormalkan nada suaranya."Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Kageo. Saya sengaja menelepon di pagi hari untuk membuat janji dengan Anda," lanjut Aya dengan tenang."Janji? Kukira, kau
Gedung Kejaksaan yang kaku akhirnya tertinggal dibelakang. Ketika memasuki mobil Elbara, udara di dalam terasa jauh lebih segar, seperti membawa pasokan oksigen baru ke dalam paru-paru Reva.Wanita itu menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi, menatap deretan gedung pencakar langit di sepanjang







