Siang itu, wajah Moza tampak jauh lebih segar. Kehadiran Kayden di sisinya seolah menjadi obat paling mujarab yang melampaui dosis cairan infus mana pun.Meski begitu, dinding putih rumah sakit tetaplah terasa seperti penjara, yang mengingatkan Moza pada trauma penculikan."Dastan, aku ingin pulang," rayu Moza dengan tatapan memohon. "Aku tidak bisa tenang di sini. Aku ingin tidur di tempat tidurku sendiri, memeluk Kayden dan Abigail."Dastan, yang sedang duduk di sofa sambil memangku laptop, mendongak. Guratan lelah masih terlihat jelas di bawah matanya, tetapi ia tetap sabar menemani Moza."Sayang, kondisi kandunganmu baru saja stabil. Dokter ingin observasi setidaknya dua malam lagi.”"Aku akan jauh lebih stres kalau tetap di sini, Dastan," bantah Moza, matanya mulai berkaca-kaca."Setiap kali aku memejamkan mata, aku teringat pesan Kageo dan kata-kata perpisahanmu di telepon. Aku ingin pulang."Dastan menghela napas panjang. Ia menutup laptopnya, lalu berjalan mendekati brankar."B
Read more