Hujan di luar reruntuhan mulai mereda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari celah-celah batu. Di dalam kesunyian, Brielle memandang Elzen dengan tatapan yang sulit diartikan. Meskipun hatinya bergetar karena pengakuan pria itu, sisi logisnya segera membangun benteng pertahanan."Kau pasti sudah mengatakan hal yang mirip begini kepada puluhan wanita, Kapten," ujar Brielle dengan nada getir, mencoba menutupi kegugupannya. "Tapi maaf, rayuanmu tidak akan mempan padaku. Aku bukan salah satu dari penggemarmu di bandara."Elzen terdiam sejenak, menatap lekat ke dalam mata Brielle. Senyum miring yang biasanya menghiasi wajahnya menghilang, digantikan oleh ekspresi yang jauh lebih serius. "Kau sok tahu sekali, Nona. Harus kuakui, banyak wanita yang terlena oleh ucapanku, itu fakta yang tidak bisa kubantah. Tapi kalimat yang baru saja kuucapkan, itu belum pernah kukatakan pada siapa pun, selain kau."Brielle mendengus, memalingkan wajahnya ke arah rintik hujan yang tersisa. "Aku tid
Read more