LOGINDalam dekapan Elzen, Brielle berhasil melewati para bodyguard tanpa terdeteksi. Namun, harga yang harus dibayar cukup mahal bagi kewarasannya.Ketika mereka berpapasan dengan salah satu pria berbadan tegap, Elzen spontan merapatkan tubuhnya dan berbisik dengan nada yang sengaja dikeraskan."Sayang, ayo kita melihat pemandangan kota Lyon. Aku sudah tidak sabar ingin berfoto berdua denganmu di puncak bukit.”Perut Brielle mendadak mulas. Kata "Sayang" yang meluncur dari bibir Elzen terasa seperti sengatan listrik yang salah sasaran. Ia pun hanya bisa menunduk dalam. Membiarkan Elzen membukakan pintu, dan membantunya duduk di kursi penumpang dengan gerakan seorang gentleman. Begitu pintu tertutup dan Elzen melompat ke kursi kemudi, suasana kabin terasa sunyi. Untuk mencairkan suasana, Brielle pun melayangkan protes. "Elzen! Kenapa kau harus memanggilku dengan sebutan... itu?" protes Brielle, wajahnya memerah meski ia berusaha tetap galak.Elzen memasang sabuk pengamannya dengan santai
Lobi hotel mulai ramai oleh hiruk-pikuk tamu yang akan sarapan atau bersiap melakukan perjalanan bisnis.Sementara, Brielle masih duduk diam di sofa. Kakinya yang mengenakan sepatu boots terus mengetuk lantai marmer dengan irama yang tidak sabar.Ia melirik jam digital di ponselnya untuk kesepuluh kali dalam lima menit terakhir."Katanya lima belas menit untuk mandi dan ganti baju, tapi ini sudah hampir satu jam!" umpat Brielle rendah, berusaha menjaga suaranya tetap di nada bariton.Brielle mendengus kesal, membetulkan letak wignya yang mulai gatal. Dalam hati ia merutuki nasibnya. Mungkinkah pria seperti Elzen akan bersolek jauh lebih lama daripada wanita?Bayangan Elzen yang berdiri di depan cermin, menata setiap helai rambutnya dengan pomade mahal dan menyemprotkan parfum berkali-kali, membuat Brielle ingin sekali meninggalkan tempat itu.Ia nyaris saja bangkit dan nekat menerjang pintu keluar, sampai tiba-tiba suara denting lift di lobi terdengar. Pintu lift terbuka, dan seolah-
Brielle menelan ludah, berusaha mencari alasan logis untuk kabur.Sial sekali. Mengapa dari ribuan orang di Lyon, ia harus berpapasan dengan Elzen di saat yang paling tidak tepat?Sungguh, kejadian semalam sudah sangat memalukan dan ia tidak mau hal itu terulang lagi. "A-aku ada urusan mendadak! Jadwalku mengunjungi situs penggalian dimulai lebih awal," ujar Brielle, berusaha menjaga jarak.Mendengar suara si gadis kelinci yang terbata-bata, sudut bibir Elzen berkedut. Matanya menyipit penuh selidik, seolah ia bisa melihat menembus wig dan kacamata besar yang dipakai Brielle. "Begitu ya? Sayang sekali. Padahal aku baru saja ingin menawarkan tumpangan sebagai tanda persahabatan kita, Brion,” balas Elzen dengan nada sedih. “Kau tahu, aku merasa bersalah karena membuatmu mabuk semalam.”Mendengar Elzen menyinggung soal dirinya yang mabuk, pipi Brielle langsung memanas. Ia segera membuang muka agar tidak bersitatap dengan Elzen.“I-itu bukan salahmu. Justru, aku yang ingin minta maaf k
Selepas menyuapi Aya, Kageo meraih botol obatnya sendiri.Ia menelan dua butir kapsul dengan sisa air putih, lalu menatap Aya. Tatapan pria itu tidak lagi tajam seperti tadi, tetapi ada keheningan yang jauh lebih mengancam.Aya meremas pinggiran selimut, jantungnya berdegup tidak karuan. Ia harus keluar dari kamar ini sebelum situasi semakin berbahaya."K-Kageo, aku bosan di sini. Udara di dalam terlalu pengap," pinta Aya, mencoba memaksakan senyum."Bisakah kau membawaku ke teras? Aku ingin melihat bintang. Kakiku butuh udara segar agar tidak terlalu kaku."Kageo menyandarkan punggungnya, menatap Aya dengan sorot mata malas. "Tidak. Udara di luar terlalu dingin untuk kulitmu yang tipis,” tolak Kageo."Kalau kau bosan, aku punya aktivitas yang sangat menarik. Sebentar, aku butuh alatnya," gumam Kageo. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju laci meja di sudut ruangan.Darah Aya seketika berdesir kencang. Pikirannya langsung melayang ke hal-hal liar yang ditakutinya sejak tadi sian
Keheningan merayap masuk ke dalam kamar seiring dengan kepergian Bu Inem.Aya terpaku di atas ranjang, menatap selimut yang menutupi kakinya. Aroma minyak urut dan rempah-rempah masih tertinggal tajam di udara.Dalam hati, Aya memanjatkan doa yang mustahil; ia berharap pintu itu terkunci selamanya dari luar. Biarlah dirinya terisolasi asalkan Kageo tidak melangkah masuk.Akan tetapi, logika membuyarkan angan-angan itu.Ini adalah wilayah Kageo. Rumah ini, kamar ini, bahkan udara yang ia hirup di desa ini, semuanya berada di bawah kendali pria itu. Cepat atau lambat, sang pangeran iblis akan kembali ke sarangnya.Gundah yang memuncak membuat dada Aya sesak. Ia pun memutuskan untuk memejamkan mata dan menarik selimutnya setinggi mungkin. Sepertinya, pura-pura tidur adalah cara pertahanan terbaik. Jika ia tampak terlelap, mungkin Kageo akan cukup "beradab" untuk tidak mengganggunya.Baru saja kelopak matanya merapat, suara derit pintu kembali terdengar. Sontak, Aya menahan napas, otot-o
Di atas ranjang, jantung Aya berdentum begitu keras. Cengkeraman tangan Kageo di rahangnya terasa dingin, memaksa wajah Aya untuk tetap terpaku pada tatapan pria itu."Bersikaplah sebagai istri yang baik," bisik Kageo sambil meraup bibir Aya. Ini adalah ciuman pertama mereka sebagai pasangan sah. Namun, tidak ada kelembutan di sana. Yang ada hanyalah tuntutan, rasa haus akan kepemilikan, dan sisa-sisa amarah yang belum tuntas. Aya memejamkan mata rapat-rapat, merasakan perih di bibirnya yang masih sensitif. Sementara pergelangan kakinya yang bengkak mengirimkan sinyal nyeri yang membuatnya tak berdaya.Tok! Tok! Tok!Suara ketukan di pintu kamar membuat Kageo terpaksa menghentikan aksinya. Spontan, ia menggeram rendah dan menjauhkan wajahnya dari Aya."Tuan Muda... maaf mengganggu," suara Bi Ani terdengar dari balik pintu. "Bu Inem, tukang urutnya, sudah datang.”Ekspresi Kageo tampak sangat kesal, karena momen intimnya terganggu. Ia menoleh ke arah pintu dengan tatapan tajam."Tung
Celine perlahan melepaskan kecupannya. Ia memberikan tatapan terakhir pada Rezon, yang sarat akan kemenangan sekaligus kepedihan. Dengan mata sembap, wanita itu berjalan menuju pintu.Ketika melewati Izora yang masih berdiri tak bergeming, Celine menghentikan langkahnya."Aku serahkan Rezon padamu,
Tak butuh waktu lama, mobil Dastan sudah memasuki kawasan taman Riverside. Kawasan hijau ini adalah perpaduan sempurna antara kemewahan dan keindahan alam.Deretan bunga teratai tampak mengambang di kolam buatan. Sementara di tengah taman, membentang sebuah danau kecil yang permukaannya jernih baga
Suasana canggung itu tiba-tiba pecah ketika suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Elbara memejamkan mata sejenak, tampak jelas ia merasa terganggu oleh interupsi yang datang di waktu yang salah. Namun, ia lekas berdiri dari posisinya yang berjongkok."Itu pasti pelayan kafe yang mengantarkan
Ketukan di pintu terdengar tiga kali, lambat dan penuh penekanan. Buru-buru, Aya menutup berkas tentang Kageo dan meletakkannya di samping laptop.Jemarinya masih terasa dingin saat ia bangkit dari kursi. Jantung Aya bertalu kencang di balik jas putihnya, menciptakan denyutan yang terasa hingga ke







