“Dita!” panggil Dennis, suaranya agak terengah, hampir terbawa emosi.Dita, yang baru saja melangkah masuk ke gedung kantornya, langsung berhenti. Ia menatap Dennis, terkejut, wajahnya serius, mata berbinar karena gelisah, dan langkahnya tidak seperti biasanya.Rupanya, Dennis berangkat pagi-pagi ke kantor ayahnya bukan untuk urusan pekerjaan,.melainkan hanya untuk menemui Dita.“Ada apa, Pak?” Dita menjawab, nada tenangnya kontras dengan kegelisahan Dennis, namun matanya menaruh rasa ingin tahu yang tajam.“Tolong kasih tahu aku, dimana Saras. Pesanku tidak dibalas, dan aku khawatir. Semalaman aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku… aku ingin menjelaskan semuanya,” kata Dennis, nadanya hampir serak, tangan-tangannya gemetar menahanrasa cemas.“Menjelaskan apa, Pak?” Dita menatapnya penuh waspada.Dennis menelan ludah, matanya menatap jauh ke arah Dita, seakan mencari kejujuran di balik wajah sahabat Saras itu.“Tentang perempuan itu, tentang kesalahpahaman ini,” jawabnya, suaran
Última atualização : 2026-03-06 Ler mais