“Alvin masuk dulu ya? Papa mau bicara dengan Opa dan Oma,” ujar Dennis lembut, meski ada ketegangan tersembunyi dalam suaranya.Alvin mengangguk, seolah mengerti situasi yang tak sepenuhnya bisa ia pahami.“Baik, Pa. Bye, Tante, nanti kita ngobrol lagi ya?” katanya sambil melambaikan tangan pada Saras.Saras membalas lambaian itu dengan senyum hangat, meski hatinya tak setenang wajahnya.Gerak kecil itu tak luput dari pengamatan dua pasang mata, Handika dan Irsa, yang sejak tadi memperhatikan dengan penuh makna.Sejenak, hanya suara detak jam yang terdengar, seolah ikut menghitung waktu menuju sesuatu yang penting. Dennis menarik napas dalam-dalam, lalu menatap kedua orang tuanya dengan mantap.“Pa, Ma, kami datang untuk meminta restu.” Ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian terakhir.“Kami ingin menikah.”Kalimat itu jatuh begitu saja, namun dampaknya terasa berat di ruangan itu.“Kapan?” tanya Handika, suaranya tenang namun tajam.“Sesegera mungkin, minggu depan. Setela
Read more