“Dennis, nanti temani Mama ya?” pinta Irsa, matanya berbinar penuh harap.“Kemana, Ma?” tanya Dennis, nada suaranya setengah waspada.“Arisan,” jawab Irsa santai, tapi ada senyum licik di wajahnya.Dennis terdiam sejenak, matanya menatap ibunya curiga. Ia tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan.“Biasanya Mama pergi sendiri,” katanya hati-hati.“Sekali-kali minta antar kamu kan nggak apa-apa,” sahut Irsa dengan nada manis, seolah tak bisa menolak.Dennis mengernyit, menaruh tangan di pinggang. “Apa yang Mama rencanakan? Mau mengenalkanku dengan anaknya teman Mama? Ma, sudahlah, aku nggak mau.”Irsa tertawa pelan, matanya menatap Dennis dengan lembut tapi penuh tipu daya. “Dennis, maksud Mama baik.”Dennis menghela napas, setengah mengeluh tapi tak bisa menolak senyum ibunya. “Aku tahu maksud Mama itu baik, tapi aku nggak suka. Kok rasanya Mama selalu punya rencana rahasia untuk mengacak-acak hidupku ya?”Irsa hanya tersenyum nakal, menepuk bahu Dennis. “Santai saja, kamu akan me
Last Updated : 2026-03-24 Read more