Ruang takhta berubah.Segel telah hancur, namun sisa pasir masih melayang tipis di udara seperti debu yang enggan turun. Pilar-pilar retak, singgasana emas miring sebagian. Lantai pecah membentuk pola tak beraturan.Dan di antara semua kehancuran itu, tidak ada yang bergerak. Ren, Lian, dan Leila berdiri di pinggir ruangan.Shangkara dan Sultan saling berhadapan di tengah kehancuran. Kedua pasang mata itu saling menatap.Tidak ada lagi dinding pasir.Tidak ada lagi sandera.Hanya dua penguasa.Ren melangkah maju.“Tuan—”Namun, Shangkara mengangkat satu tangan tanpa menoleh.Lian segera menarik lengan Ren. “Ini bukan tempat kita,” bisik Lian. “Kita hanya akan mengganggunya.”Leila mengangguk, menahan mual karena tekanan udara yang mendadak berubah berat. Ia memaksakan matanya tetap terbuka, menyapu langit-langit yang mulai retak. “Kita cari jalan keluar. Atau cari cara lain untuk memastikan istana ini tidak mengubur kita semua.”Mereka bertiga mundur, berlindung di balik pilar-pilar
Last Updated : 2026-02-22 Read more