Malam itu, bulan tertutup awan tebal. Udara di ngarai sempit itu berbau campuran antara kotoran unta, rempah busuk, dan keringat.Sebuah rombongan kecil berhenti di pos pemeriksaan darurat. Bukan gerbang emas Saharath yang megah, melainkan pos kayu reyot yang dijaga oleh prajurit-prajurit buangan yang matanya merah karena kurang tidur dan mabuk arak murah.“Berhenti!” bentak seorang penjaga, mengacungkan tombak tumpul.Ren, yang duduk di kursi kusir, menatap penjaga itu datar, namun otot rahangnya mengeras. Ia menahan tangannya agar tidak menyentuh gagang pedang.Dari dalam kereta, sebuah tangan pucat namun kuat menyentuh bahu Ren.“Tenang,” suara Shangkara terdengar datar.
Last Updated : 2026-02-09 Read more