Retakan cahaya itu perlahan semakin melebar. Langit ruang kesadaran yang selama ini selalu tenang perlahan terbelah oleh garis-garis keemasan. Cahaya lembut mengalir dari celah tersebut, bukan menyilaukan, melainkan memberi kesan damai yang aneh. Sesosok pria muncul di bawah kilau keemasan, melangkah mendekati Velian dan Eira. Velian spontan berdiri, melangkah satu langkah ke depan, tanpa sadar menempatkan tubuhnya di depan Eira. Untuk pertama kalinya sejak berada di ruang kesadaran, ekspresi keduanya dipenuhi rasa heran. Suara langkah kaki terdengar. Semakin dekat, semakin jelas. Setelah bayangan sosok itu semakin jelas, Velian membelalak lebih dulu. Jubah putih berlapis benang emas menjuntai hingga mata kaki. Rambutnya yang berwarna hitam berkilau diterpa cahaya, sementara sepasang mata cokelatnya memandang lurus ke arah dua jiwa di hadapannya. Pria itu berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya bergantian memandang Eira dan Velian. Kemudian, ia tersenyum
Baca selengkapnya