“Tidak…” Velian memalingkan wajahnya perlahan. Rasa malu merambat sampai ke ujung telinga.Rhys makin yakin. “Benar-benar tidak?”Alverine menangkup pipi Rhys dengan kedua tangannya, penuh rasa ingin tahu. “Apa itu menstruasi, Papa?”Rhys tersenyum kecil. “Nanti, kalau Alvie sudah besar, kamu akan mengerti sendiri, Putriku.”Ia kembali menatap Velian, sorot matanya lembut—berbeda dari sebelumnya. “Saya tahu apa yang kamu inginkan.”Velian melirik sekilas, masih bersikap defensif.“Alih-alih merajuk karena tidak ikut ke Istana,” lanjut Rhys, kali ini nadanya terdengar lebih hidup, “saya ingin mengajakmu ke suatu tempat.”Velian terdiam sejenak. Tanpa ia sadari, kekesalan di dadanya mereda perlahan.“Ke mana?” tanyanya, nyaris tanpa nada ketus.“Aku tidak diajak?” suara Alverine terdengar sendu.“Kita bertiga,” jawab Rhys tanpa ragu.Velian terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Ya sudah… aku mau.” Nadanya masih malu-malu. Setidaknya, ini
최신 업데이트 : 2026-01-10 더 보기