首頁 / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 96: Di Luar Kendali

分享

Chapter 96: Di Luar Kendali

作者: KIKHAN
last update publish date: 2026-07-08 22:49:44

Dame Raven memutuskan berjalan-jalan sebentar mengelilingi taman mansion. Udara pagi yang sejuk berpadu dengan harum bunga-bunga yang bermekaran membuat suasana terasa menenangkan.

Langkahnya terhenti di dekat kubah kaca.

Di sana, Leona tengah menyiram deretan bunga bersama seorang pekebun yang bertugas merawat taman mansion. Tempat itu begitu familier bagi Raven. Dahulu hingga kini, Eira kerap menghabiskan waktu berjam-jam duduk di dalam kubah kaca, melamun dengan tatapan kosong yang menyiratk
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 106: Penjaga Batas Dua Dunia

    "Kalau begitu," ujar Raja Aethelred IV sambil bangkit dari singgasananya, "selagi menunggu Alverine tiba, mari kita lanjutkan pembicaraan di ruang perundingan."Tak lama kemudian, Raja, Ratu, dan Putra Mahkota berdiri hampir bersamaan. Para pengawal segera membuka pintu menuju ruang perundingan, sementara para pelayan bersiap mengiringi langkah keluarga kerajaan.Rhys hendak mengikuti mereka. Namun, jemarinya tiba-tiba disentuh pelan.Ia menoleh. Eira menggenggam lengan jasnya dengan lembut. Tatapannya kemudian beralih kepada Raja."Yang Mulia..."Raja menghentikan langkahnya dan menoleh."Sebelum kita menuju ruang perundingan..." Eira menundukkan kepala sejenak sebagai bentuk hormat. "Izinkan saya berbicara sebentar dengan Yang Mulia Putra Mahkota."Rhys menatap Eira dengan heran. Ia tidak menyangka Eira akan meminta hal itu secara langsung. Lucien sendiri tetap tenang, seolah telah menduga permintaan tersebut.Raja Aethelred mengamati wajah Eira beberapa saat sebelum akhirnya mengan

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 105: Suara yang Belum Didengar

    Ratu Isolde VI memandang Rhys dengan sorot mata penuh perhatian. "Bagaimana keadaan Alverine sekarang, Rhys?""Syukurlah, kami semua dalam keadaan baik, Yang Mulia. Tidak ada korban maupun luka serius."Ratu mengembuskan napas lega. "Itu kabar yang menenangkan."Raja Aethelred IV menyandarkan punggungnya pada singgasana. "Namun kejadian semalam tetap tidak bisa dianggap sepele." Tatapannya bergantian mengarah kepada Rhys, Eira, lalu Dylen. "Sudah berabad-abad Morwenia tidak menyaksikan kebangkitan inti magis pada usia sedini itu."Ia berhenti sejenak. "Terlebih lagi ... energi yang bangkit adalah energi keemasan."Keheningan memenuhi ruang audiensi. Tak seorang pun menyela.Raja melanjutkan dengan nada yang lebih tenang. "Orang-orang yang berada di ruangan ini bukan orang biasa." Pandangan beliau beralih kepada Rhys dan Garrick. "Kalian berdua adalah pedang Kerajaan Morwenia."Kemudian kepada Dylen. "Sedangkan kau mewakili Akademi Marindor."Terakhir, tatapannya berhenti pada Eira. "D

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 104: Di Hadapan Takhta

    Alverine berdiri di depan cermin kamarnya.Dengan wajah penuh konsentrasi, ia memperagakan kembali setiap gerakan yang pernah diajarkan Serina. Kedua telapak tangannya terangkat perlahan, lalu bergerak mengikuti alur yang masih ia ingat.Tak lama kemudian, cahaya keemasan perlahan muncul dari telapak tangannya.Energi itu mengalir lembut, berputar membentuk pusaran kecil yang memantulkan kilau hangat di permukaan cermin."Alvie?"Suara lembut dari balik pintu membuat Alverine tersentak.Refleks, ia segera menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung. Cahaya keemasan itu pun menghilang seketika.Saat menoleh, ia mendapati Dame Raven tengah berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan senyum tipis."Ma ... maaf, Dame." Suara Alverine terdengar gugup. "A-aku hanya ... ingin mencoba lagi."Raven menggeleng pelan. "Tidak ada yang perlu kau minta maaf."Ia melangkah menghampiri Alverine, lalu menggenggam lembut tangan mungil gadis itu dan mengajaknya duduk di tepi kasur. Tatapannya

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 103: Serahkan Padaku

    Rapat berakhir tanpa keputusan mengenai masa depan Alverine.Namun satu hal telah dipastikan.Rhys mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Besok pagi saya akan pergi ke istana."Tak seorang pun terkejut mendengarnya.Mereka tahu, cepat atau lambat, pertemuan itu memang harus terjadi.Eira mengangkat wajah, menatap Rhys dengan tenang. "Jika berkenan ... aku ingin ikut bersamamu."Rhys belum sempat menjawab. Dame Raven menyela lebih dulu, "Bawa Eira bersamamu, Rhys."Semua mata beralih kepadanya.Raven melipat kedua tangannya di atas pangkuan. "Lebih baik Eira hadir langsung daripada istana hanya mendengar cerita dari laporan orang lain."Leona mengangguk pelan. Ia memahami maksud Raven tanpa perlu dijelaskan lebih jauh.Jika Rhys datang seorang diri, bukan hanya laporan yang akan dibawa ke hadapan Raja Aethelred.Dengan wataknya yang keras dan selalu melindungi keluarga, sangat mungkin pertemuan itu berubah menjadi adu pendapat apabila keputusan istana bertentangan dengan

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 102: Perjanjian Lama

    Rhys mengedarkan pandangan ke seluruh meja makan."Dalam keluarga ini, saya yang akan mengambil keputusan."Ia berhenti sejenak."Tetapi sebelum itu ... saya ingin mendengar apa yang ada di benak kalian."Tak seorang pun menyangka Rhys akan membuka pembicaraan seperti itu.Tak seorang pun segera menjawab pertanyaan Rhys.Keheningan kembali memenuhi ruang makan. Semua orang memiliki pendapat, tetapi tak ada yang sanggup mengawali. Topik yang mereka bahas malam ini terlalu berat untuk dijawab sembarangan.Rhys mengedarkan pandangannya perlahan.Akhirnya, matanya berhenti pada Leona."Leona."Wanita itu mengangkat wajah."Bagaimana menurutmu? Kaulah yang menyaksikan sekaligus merasakan sendiri kekuatan Alverine hari ini."Rhys berhenti sejenak. "Sebelum itu ... saya bersyukur kau dan anak kita tidak mengalami apa pun."Leona mengangguk kecil. "Terima kasih."Ia menarik napas pelan. "Aku sebenarnya tidak ingin langsung membahas kep

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 101: Keheningan Sebelum Jawaban

    "Tidak. Saya hanya ingin berbicara berdua denganmu."Rhys menatap Eira dengan sorot mata serius, tetapi sama sekali tidak menekan. Tatapannya justru dipenuhi kehati-hatian, seolah memilih setiap kata yang akan keluar dari bibirnya.Sebelum Rhys sempat memulai, Eira lebih dahulu bertanya, "Apa yang terjadi pada Alvie? Mengapa tiba-tiba dia bisa mengeluarkan kekuatan?""Menurut Dylen, inti magis Alverine memang telah mencapai waktunya untuk bangkit." Rhys berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kemungkinan mendatang, Alvie harus belajar mengendalikan kekuatannya. Cepat atau lambat, dia tetap membutuhkan bimbingan Dylen."Alih-alih merasa lega, wajah Eira justru semakin pucat.Ia mengetahui sesuatu yang diketahui mereka juga sebagai keluarga bangsawan yang tahu sejarah Morwenia. Energi keemasan bukan sekadar anugerah. Kekuatan itu juga mampu mengundang keserakahan."Lalu bagaimana?" tanyanya pelan. "Apakah Alvie harus belajar di Akademi Marindor ... atau tetap di

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 6: Rhys Menghunuskan Pedang

    “Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 5: Velian Mengubah Cerita

    Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 4 : Eira yang Lain

    Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 3: Lepas Kendali

    Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status