Home / Romansa / Alur Baru Sang Selir Ketiga / Chapter 93: Takdir Mulai Bergerak

Share

Chapter 93: Takdir Mulai Bergerak

Author: KIKHAN
last update publish date: 2026-07-05 08:06:30

Alverine mengedip bingung. Ia semula mengira Rhys akan ikut bersorak bangga melihat "sulap" pertamanya. Namun yang ia lihat justru sebaliknya. Wajah ayahnya perlahan memucat. Senyum di bibir Alverine ikut menghilang. Perlahan ia menurunkan tangannya, membiarkan cahaya keemasan yang melayang di atas telapak tangan kecilnya memudar sedikit demi sedikit.

"Papa...?"

Rhys segera berlutut hingga tinggi mereka hampir sejajar.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menggenggam telapak tangan Alverin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 114: Sesuatu yang Dilihat Alverine

    Dylen meminta Alverine kembali duduk. “Kita ulangi sekali lagi. Kali ini, pertahankan ketenanganmu selama lima menit."Alverine mengangguk patuh. Ia memejamkan mata, lalu menarik napas perlahan seperti yang telah diajarkan Dylen.Satu menit berlalu. Tidak ada perubahan. Napasnya teratur, bahunya rileks, dan cahaya keemasan di sekitar inti magisnya berpendar lembut.Menit kedua masih stabil. Bahkan denyutan energi emas itu mulai semakin halus, seolah telah mengikuti ritme napasnya.Dylen yang berdiri beberapa langkah di depannya mulai yakin bahwa latihan hari itu akan berjalan lebih baik daripada perkiraannya.Lalu, pada menit ketiga—Alverine melihat sesuatu.Bukan ruangan tempat ia berada. Bukan wajah Dylen. Bukan pula ingatan miliknya.Sebuah koridor istana terbentang di hadapannya.Sepi dan dingin.Kemudian terdengar suara seseorang memanggil sebuah nama.“Eira...”Alverine terdiam.Ia melihat sepasang tangan yang gemetar.Merasakan sesak yang menusuk dada.Kemudian sosok seorang pr

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 113: Pelajaran Pertama

    Alverine, Velian, Raven, dan Leona menunggu kepulangan Rhys di teras depan mansion.Raven dan Leona duduk di kursi santai berbahan rotan dengan sandaran tinggi yang nyaman. Sementara itu, Velian berdiri bersandar pada kusen pintu di sisi kiri, sesekali memeriksa kuku tangannya yang baru saja selesai dirawat.Alverine?Gadis kecil itu memilih duduk di salah satu anak tangga, sibuk mengobrol dengan Xuu seolah anjing kecil itu adalah teman sebaya yang paling bisa dipercaya."Menurutmu nanti Tuan Dylen ngajarnya susah tidak?"Guk!"Kalau susah, aku pura-pura tidak mengerti saja."Guk!Alverine terkikik.Beberapa menit kemudian, suara mesin kendaraan terdengar dari arah gerbang.Mobil Rhys memasuki halaman dan berhenti tepat di depan tangga utama.Leona menjadi orang pertama yang bangkit. Senyumnya langsung merekah begitu Rhys turun dari mobil dan menaiki beberapa anak tangga."Aku merindukanmu, Rhys."Rhys hanya tersenyum. Tangann

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 112: Bersedia

    Alverine akhirnya selesai bermain bersama Putra Mahkota Lucien. Karena Rhys masih dalam perjalanan pulang, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum Lucien kembali ke istana.Di tengah persiapan makan, Vox Device milik Raven bergetar singkat.Sebuah pesan masuk dari Rhys: "Saya dalam perjalanan pulang.Raven segera membalas: "Baik. Tapi sebelumnya, maaf, Rhys. Kami akan makan siang lebih awal bersama Yang Mulia. Rasanya tidak enak jika beliau kembali ke istana tanpa makan terlebih dahulu."Balasan Rhys datang tak lama kemudian: "Tidak masalah."Kursi yang biasanya ditempati Rhys tetap kosong di ujung meja. Sebagai gantinya, Lucien duduk di sebelah Alverine. Entah mengapa, berbicara dengan seorang anak kecil terasa jauh lebih mudah daripada menghadapi tiga perempuan dewasa yang duduk berseberangan dengannya."Alvie," Raven membuka percakapan. "Papa sedang dalam perjalanan pulang."Alverine yang tengah menyuapkan makanan ke mulutnya menole

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 111: Kunjungan Pagi

    Pagi yang tenang menyelimuti Mansion Vance.Sinar matahari perlahan menyelinap di sela-sela tirai kamar Eira, membangunkannya dari tidur yang panjang. Ia membuka mata dengan perlahan. Entah mengapa, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan biasanya.Eira menarik napas dalam-dalam. Dada yang hampir setiap pagi terasa sesak kini justru lapang. Jantungnya berdetak stabil tanpa rasa nyeri yang selama ini telah menjadi bagian dari rutinitasnya setiap bangun tidur.Ia terdiam beberapa saat."Aneh..."Namun Eira tidak ingin buru-buru menyimpulkan apa pun. Mungkin saja tubuhnya hanya sedang berada dalam kondisi yang lebih baik.Rambut panjangnya sedikit mengembang akibat semalaman bergesekan dengan bantal. Meski begitu, wajahnya tetap tampak bersih dan cantik, memperlihatkan sisi sederhana seorang perempuan yang baru saja bangun tidur, jauh dari kesan anggun yang selalu melekat padanya di hadapan orang lain.Sementara itu, di ruang makan...Alverine sudah bangun sejak pukul enam pagi.D

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 110: Resonansi Pertama

    Alverine berlari kecil menghampiri mereka sambil mengangkat mahkota bunga yang baru selesai dirangkainya."Papa! Dame! Lihat!"Mahkota kecil dari bunga moryn itu seketika memecah keheningan yang sempat menyelimuti taman.Raven tersenyum hangat. "Cantik sekali."Ia mengambil mahkota itu, lalu menyematkannya perlahan di atas kepala Alverine. "Pas sekali untuk putri kecil kita."Alverine terkikik senang."Alverine." Rhys mengulurkan tangannya. "Ayo, kita pulang."Alverine segera menggenggam tangan ayahnya, meski wajahnya sedikit mengerucut."Cepat sekali kita pulang." Ia mendongak kepada Raven. "Padahal sekarang kita sudah jarang main ke istana. Benar, kan, Dame?"Raven mengangguk kecil. "Benar."Alverine lalu meraih tangan Raven yang lain sehingga ia berjalan di tengah-tengah kedua orang dewasa itu."Di mana Mami Eira dan Tuan Garrick?""Mereka sudah menunggu di mobil," jawab Raven lembut.Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak menuju halaman depan istana.Sepanjang perjalanan,

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 109: Waktu yang Menipis

    "Mungkin..."Velian mengembuskan napas panjang. "...memang sudah sebaiknya kita menjalani kehidupan di Morwenia sebagaimana adanya." Tatapannya kosong menembus pantulan cermin. "Semakin lama, aku semakin kehilangan harapan untuk kembali ke duniaku."Eira menggeleng pelan. "Lalu bagaimana dengan nasib kita?" Tatapannya tak beralih dari Velian. "Kedatanganmu ke dunia ini bukan sebuah kebetulan." Napasnya terasa berat. "Aku bisa menerima jika kehadiranmu ternyata tidak mampu mencegah kematianku." Ia berhenti sejenak."Tapi... jangan biarkan aku mati dengan cara yang sama." Suara Eira mulai bergetar. "Kehidupan pertamaku di Morwenia sudah berakhir. Kalau pada akhirnya aku harus mengalami kematian yang sama, untuk apa aku dihidupkan kembali?"Tak ada satu pun jawaban yang mampu ia berikan. Penulis itu benar-benar kehilangan arah atas cerita yang pernah ia ciptakan. Keheningan menggantung cukup lama.Eira akhirnya mengembuskan napas pelan, lalu berbalik meninggalkan kamar kecil. Ia membuka

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 5: Velian Mengubah Cerita

    Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 4 : Eira yang Lain

    Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 3: Lepas Kendali

    Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping

  • Alur Baru Sang Selir Ketiga   Chapter 2: Masuk ke Tubuh Selir Ketiga

    “Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status