Raven memegang dahinya yang berdenyut nyeri. Ia tak mungkin mengawasi semuanya sendirian—Eira, Leona, dan kekacauan yang belum sepenuhnya reda—tanpa Rhys di sisinya. Namun, seperti dugaannya, Rhys tetap memilih pergi mengejar pelaku.“Jika saya tidak pergi sekarang, luka seperti ini akan terulang,” ucapnya datar. “Saya tidak akan membiarkannya.”Kini, Raven kembali ke kamar Eira. Leona sudah tidak ada—barangkali kembali ke kamarnya, tenggelam dalam tangis dan rasa bersalah yang tak tahu harus ia letakkan di mana. Yang tersisa hanyalah gadis lemah itu, terbaring tak berdaya di atas ranjang. Sinar matahari menyelinap masuk dari celah tirai jendela, jatuh lembut di wajah pucat Eira.Entah mengapa, Raven merasa badai yang menerpa rumah ini datang terlalu sering. Menghantam bertubi-tubi, tanpa memberi mereka kesempatan bernapas.Seorang pelayan berhenti di depan pintu kamar. “Dame Raven, Nona Alverine sudah bangun dan mencari Anda.”Raven menghela napas pelan.Den
続きを読む