“Apa kau pikir aku buta, Djati.” Suara Nurma memecah ruang tengah seperti pecahan kaca. Tatapannya tajam, napasnya berat, dadanya naik turun seolah menahan ledakan yang sudah terlanjur keluar.Djati bersandar di sisi meja, satu tangan masuk ke saku celana. Senyum tipis tergambar di wajahnya, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja dituduh. “Aku hanya bicara dengan Celia, Mi. Mami pikir apa, sih. Jangan membesar-besarkan masalah kecil,” ucapnya ringan. “Bicara sedekat itu, bicara semesra itu?!.”Nurma tertawa sinis. “Mataku melihat jelas semua, telinga ini mendengar obrolan kalian.”“Kau tahu ‘kan dia statusnya istri Bhaga di rumah ini” katanya. “Sekarang kau bilang tidak ada yang perlu dibesar-besarkan.” Djati mengangkat bahu. Matanya melirik ke arah koridor paviliun, lalu kembali ke Nurma. “Kau terlalu sensitif, Mi. Kalau kau mendengar semua harusnya kau tahu. Aku tak pernah bermain-main, apalagi dengan Celia.” Nurma melangkah mendekat. Jarak mereka menyempit hingga aroma
Last Updated : 2026-01-27 Read more