“Kau pikir bisa membuangku begitu saja, Bhaga?!” Suara Celia menggema di ruang tamu rumah Bhaga, pecah, melengking, penuh amarah. Dadanya naik turun, rambutnya sedikit berantakan, matanya merah oleh emosi yang belum tersalurkan. Bhaga berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah datar, sorot mata dingin, rahang mengeras. “Kau menerobos masuk lagi ke rumahku,” ucap Bhaga, “dan masih punya muka untuk berteriak.” Celia tertawa sinis. Suaranya terdengar mencibir. “Rumahmu?” Dia menunjuk lantai dengan kasar lalu mendengkus. “Ini juga rumahku. Aku masih istrimu. Jangan pernah lupakan itu, Bhaga.”Bhaga menatapnya lama. Tatapan itu membuat Celia semakin panas.“Kau tahu, aku mau dikirim ke luar negeri oleh Papa,” lanjut Celia, “kau jahat. Kau atur semua ini tanpa bicara. Kau menjauhiku? Kau anggap aku barang rusak yang bisa kau singkirkan?!” Dia berteriak di ujung kalimat. Jarinya menunjuk Bhaga dengan sorot dendam.Bhaga menghela napas pendek. “Kau membawa masalah ke mana-mana. Aku hanya
Última atualização : 2026-01-29 Ler mais