/ Romansa / Di Ranjang Majikanku / 177. Semua Lelahku Luruh

공유

177. Semua Lelahku Luruh

작가: Keke Chris
last update 게시일: 2026-01-27 17:23:49

“Aku capek, Bin.” Suara Bhaga terdengar berat saat pintu paviliun tertutup di belakangnya. Jasnya masih melekat di tubuh. Dasinya sudah longgar. Matanya redup, menyimpan sisa amarah yang belum selesai.

Binar yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menoleh. Tatapannya membaca sesuatu yang tidak diucapkan Bhaga. Bahu pria itu turun. Napasnya kasar.

“Apa yang membuatmu begitu lelah?” tanya Binar pelan.

Bhaga tidak menjawab. Dia berjalan ke arah sofa di sudut ruangan. Duduk dengan punggung se
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Di Ranjang Majikanku   296. Suite Hotel

    Sudah berjam-jam Binar mempelajari dokumen yang diberikan oleh Djati. Dia bahkan meminjam meja kerja Bhaga untuk itu. Meski Bhaga tidak mengerti kenapa papinya justru memerintahkan Binar yang maju alih-alih orang lain, tapi dia tak bertanya. Bhaga juga mempersilakan Binar untuk memakainya sampai selesai.Berulang kali BInar mengusap wajahnya. Jujur saja, dia pusing dan banyak hal yang tidak dia mengerti. Jadi dia harus mencari tahu dari internet maupun buku yang ada di ruang kerja Bhaga itu.Istilah yang asing di telinganya, tapi terasa penting. Binar membaca semua dan mencari tahu dengan detail. Matanya bergerak dari baris pertama ke baris terakhir, dari halaman satu ke halaman lainnya.Kini, dia lelah. Sangat lelah. Matanya sampai berair dan perih.“Apa aku bisa?” tanyanya pada diri sendiri. “Tapi, aku tak boleh gagal. Ini kesempatan besar.”Dia duduk diam beberapa menit, berusaha meregangkan tubuhnya yang kaku sambil menerawang jauh, memikirkan cara apa yang harus dia lakukan agar

  • Di Ranjang Majikanku   295. Ujian Dari Djati

    Nurma tadinya tidak mau menguping. Tetapi rasa penasarannya begitu tinggi, hingga dia harus mengendap sesaat setelah Binar menutup pintu ruang kerja suaminya.Tadinya dia hanya sedang menyusun bunga di vas dekat jendela ruang tamu. Hingga suara sapaan Binar yang baru datang, membuatnya tersentak kecil. Dia tak menjawab, justru semakin mengernyit kala asisten pribadi Djati langsung menghampiri dan meminta Binar untuk segera masuk dan menemui Djati.Beruntung, pintu itu tak dijaga dari luar. Jadi dia sengaja menempelkan telinganya dan berharap suara di dalam sana bisa terdengar.Lalu suara Djati dan Binar menembus celah pintu.Nurma membeku. Dia membasahi tenggorokannya dan napasnya sedikit cepat. Apa-apaan ini, pikirnya.Dia mendengar semuanya dan melotot saat kalimat terakhir dari Djati itu terdengar.Aku akan mempertimbangkan posisimu di keluarga ini dengan cara yang berbeda.Nurma meninggalkan pintu ruang kerja dan kembali ke tempatnya. Tetapi dia tetap tidak bisa menyelesaikan rang

  • Di Ranjang Majikanku   294. Tugas Pertama

    Pintu hotel baru saja ditutup oleh Bhaga saat telepon Binar berdering. Binar yang sedang merebahkan tubuh di kasur karena kelelahan berjalan-jalan membiarkan tetap berdering sampai panggilan itu berhenti sendiri.Namun, detik berikutnya, ponsel Bhaga yang berdering. Bhaga merogoh kantongnya dan segera mengangkat panggilan itu setelah melihat nama papinya.“Iya, Papi.”“Kemana Binar? Kenapa telepon Papi tidak diangkat?”Bhaga mengernyit. “Papi … cari BInar?” tanyanya ragu.“Iya. Dan Papi sudah siapkan tiket untuk kalian pulang sore nanti. Bersiaplah dan sampai ketemu di rumah.”Kini, Bhaga melongo. “Tapi Papi, ini belum waktunya kami pulang.”“Papi tidak mau tau. Kalian harus pulang sore nanti.”Panggilan terputus begitu saja.Masih dengan kondisi wajah yang melongo, Bhaga menoleh ke BInar yang kini sudah duduk dan memperhatikannya.“Ada apa?” tanya Binar.“Papi meminta kita pulang sore nanti.”“Apa?!”“Kau tak salah dengar.”“Tapi kenapa?”“Papi tidak bilang.”Binar menghela napas ber

  • Di Ranjang Majikanku   293. Ciuman Manis

    Matahari sudah meninggi ketika keduanya bangun. Mereka kelelahan dan tidur jadi terlalu lelap.“Sayang.” Panggil Bhaga sambil mencium pundak polos Binar.Tangan Bhaga terus mengelus tubuh Binar di dalam selimut, sesekali meremas pelan, dan memeluknya erat. “Bangun, yuk, Sayang.”Binar melenguh.Mata Binar perlahan membuka, menggerakkan badannya sedikit agar lepas dari dekapan Bhaga, tapi tak berhasil jadi dia sedikit mencebik kesal.“Lepas dulu, aku masih cape.” Protes Binar.Kepala Bhaga menggeleng. “AKu masih mau peluk kamu sebentar, sebelum kita mandi, lalu pergi jalan-jalan.”Mendengar itu, kantuk Binar langsung hilang. Matanya segar dan badan yang tadi dia protes karena masih capai, kini sudah diregangkan dan bersandar di kepala ranjang. Tak peduli selimut yang jatuh ke pinggangnya, tak lagi menutupi tubuhnya.“Ayo. Jalan-jalan kemana?” tanya Binar dengan semangat.Bhaga gemas sendiri, dia akhirnya memeluk erat Binar dan mengecupnya berkali-kali. “Mandi dulu, yuk.”**Akhirnya, m

  • Di Ranjang Majikanku   292. Tak Tahan Lagi

    Semakin malam, obrolan mereka tak lagi ringan. Interaksi mereka terasa semakin intim, dengan tatapan mata yang mulai ada percikan gairah dan sentuhan kecil yang menggoda.Bhaga masih duduk dengan santai, tapi matanya tak bisa lepas dari memindai Binar. Leher yang terekspos, tulang selangka yang mengintip sebagian dan dua bulatan favoritnya yang kini tertutup gaun ketat, membuatnya semakin terpancing gairah. Pikirannya sudah kemana-mana.Binar sengaja memainkan sendok kecilnya, menjilat dengan tatapan nakal ke arah Bhaga, dan menggigit pinggiran bibirnya. Dia juga sengaja menempelkan dadanya ke pinggiran meja dan saat Bhaga melihatnya, dia menjilat bibir bawahnya.“Kenapa liatin aku terus?” tanya Binar dengan suara lembut tapi penuh godaan, matanya berkilat nakal.Bhaga tersenyum miring, suaranya rendah dan berat, “Karena dari tadi aku mambayangkan payudara kamu yang lagi aku lihat ini sedang aku hisap pelan sambil kamu mendesah di bawahku.”Darah Binar berdesir hebat. Tubuhnya langsun

  • Di Ranjang Majikanku   291. Bintang Berlian

    Pakai ini.Dua kata itu tertera di kartu yang tersemat di atas sebuah kotak berwarna merah marun. Binar menemukannya di atas kasur bersama dengan sebuah jaket tebal di samping kotak itu.Binar membuka kotak itu. Sebuah gaun panjang berwarna navy dengan potongan sederhana di depan dan punggung yang terbuka sedikit, ada di dalam sana. Dia mengangkatnya, menempelkan ke tubuhnya yang masih terbalut handuk, dan tersenyum. Tangannya mengelus gaun itu, kainnya begitu halus dan jatuh mengikuti lekuk tubuh.Bhaga pasti mempersiapkan ini semua sebelum berangkat. Lagi, Binar tersenyum bahagia.Dia memakai gaun itu di depan cermin kamar hotel, melihat bagaimana kain itu jatuh di pinggul, dan belahan di belakang memperlihatkan garis tulang belakangnya. Tubuhnya memutar sedikit, melihat dari samping. Cantik, dia terlihat cantik sekali. Dia bahkan tak tahan untuk memuji dirinya sendiri.Binar mengambil sepasang anting mutiara kecil dan memakainya, masih dengan wajah yang cerah.Di luar kamar, Bhaga

  • Di Ranjang Majikanku   138. Bertahanlah, Papi!

    "Bhaga, stop!!" Binar menjerit, histeris.Tak memedulikan Tristan maupun Binar yang panik, Bhaga berbalik badan dan segera menarik Binar bersamanya keluar hotel itu. “Kita pulang, Binar. Kau sudah tak aman di sini dan aku tak bisa membiarkanmu jauh dariku.” Binar masih menoleh ke belakang dengan

    last update최신 업데이트 : 2026-03-27
  • Di Ranjang Majikanku   134. Aku Pilihanmu

    Nurma duduk di dalam mobil masih dengan tangan yang terlihat gemetar, kakinya lemas, dan dia tak bisa berpikir jernih sekarang. Wajahnya pucat dengan tatapan yang kosong menembus jendela.Suara Selene terus berputar di kepalanya.“… aku akan menjatuhkan keluarga itu dan ibunya yang sok suci itu…”S

    last update최신 업데이트 : 2026-03-27
  • Di Ranjang Majikanku   123. Sempit Dan Gelap

    Nurma memeluk Selene yang kini sedang meringkuk di dadanya dengan isak kecil yang menyentuh hatinya.“Dasar anak kurang ajar, Bhaga! Sudah ditolong malah menyakiti seperti ini.” Selene sendiri menggigit bibirnya menahan tawa sambil berpura-pura terisak. Dia membiarkan dirinya tetap dalam pelukan N

    last update최신 업데이트 : 2026-03-26
  • Di Ranjang Majikanku   117. Salah Sangka

    Cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan Bhaga seolah sedang menyorot ketegangan di dalamnya. Bhaga menyandarkan pinggulnya pada meja kerjanya sambil memperhatikan beberapa bukti foto yang baru saja dikirimkan Rudi.Bhaga menghela napas, lalu menyimpan foto itu kembali ke dalam berkas.Pintu rua

    last update최신 업데이트 : 2026-03-26
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status