Bhaga mengembuskan napas panjang saat mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Jasnya sedikit kusut. Sementara Binar … Bhaga melirik sekilas lalu tertawa pendek. “Astaga.” Rambut perempuan itu benar-benar berantakan. Lipstiknya nyaris hilang dan ronanya menyebar di seluruh pinggiran bibir, ditambah bahunya masih memerah samar. Binar langsung memukul lengan Bhaga pelan. “Jangan lihat!” “Yang bikin juga aku.” “Bhaga!” Pria itu turun lebih dulu sambil menahan senyum. Malam sudah sangat larut saat mereka masuk ke rumah. Namun lampu ruang tengah ternyata masih menyala. Bhaga mengernyit dan terperangah saat melihat Ardan duduk selonjoran di sofa sambil memegang tablet. Langkah Bhaga langsung berhenti. “Nak, Kamu belum tidur?” Anak itu mengangkat muka santai. “Belum ngantuk, Pah.” Bhaga melirik jam dinding. “Ini udah jam setengah satu malam.” “Tapi aku nunggu papa dan bunda pulang.” Binar yang masih sibuk membenarkan rambut langsung merasa bersalah. “Ardan say—.” “Tidur, Nak!”
Read more