"Bu, Binar datang." Suara Binar pecah begitu kakinya melangkah memasuki ruang tengah. Tas ranselnya tergantung lemas di bahu, rambutnya berantakan setelah perjalanan semalaman yang penuh gelisah. Matanya sembap, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena air mata yang tak henti mengalir sejak di dalam bus. Bu Nuri, yang beberapa jam lalu membuatnya panik setengah mati, kini duduk di sana, sedang mengupas salak dengan santai. Sesaat, dunia Binar berhenti berputar. Dia mengerjap sambil ternganga. "Ibu..." bisiknya serak. Bu Nuri menoleh. Salak di tangannya jatuh ke lantai dengan bunyi kecil. Wajahnya berubah dalam sekejap, dari tenang menjadi terkejut, lalu air mata langsung mengalir deras, tertampar keras oleh gelombang rindu yang selama ini dipendam. "Binar... Nduk ..." Tanpa kata lagi, Bu Nuri bangkit dan membuka tangan. Binar langsung berlari ke pelukannya. Mereka bertemu dalam dekapan yang begitu erat, seolah takut satu sama lain akan hilang lagi. Tubuh Binar gemetar hebat
Terakhir Diperbarui : 2026-06-29 Baca selengkapnya