Binar mendekat, dadanya hampir menyentuh dada Bhaga. Udara kopi dingin naik di antara mereka, tapi tidak ada yang peduli. Jarak semakin tipis, dan detak jantung Binar semakin cepat."Kau tahu apa yang kau lakukan?" bisik Bhaga, suaranya serak. "Kau sengaja, hm.""Memang." Binar mengangkat dagu, menantang. "Kau mau apa?"Kalimat itu adalah pemicunya.Bhaga meletakkan gelas kopi di atas meja terdekat, lalu dalam satu gerakan cepat, tangan kirinya meraih pinggang Binar, menariknya mendekat, dan tangan satunya menangkup wajah Binar. "Ini," katanya di sela ciuman, "adalah yang bisa kulakukan."Mereka berciuman di ruang tamu yang sunyi. Dengan lidah yang saling menggoda dan merayu sampai akhirnya Bhaga tak tahan lagi dan menarik Binar keluar rumah.“Masuk. Cepat!”Pintu mobil ditutup kasar. Mesin mobil menyala dan Bhaga menyetir dengan terburu-buru menuju hotel terdekat.Binar duduk di kursi penumpang dengan pipi yang masih merona, sesekali melirik Bhaga yang memegang setir dengan satu tang
Terakhir Diperbarui : 2026-07-09 Baca selengkapnya