"Pah." Suara Ardan kecil, tapi cukup jelas di ruang makan yang tenangl.Bhaga mengangkat wajahnya. Memperhatikan Ardan yang tidak terlihat seperti biasanya. Anak itu duduk terlalu tegak di kursinya, seperti sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang berat."Ardan mau cerita sesuatu,” cicit ArdanSendok di tangan Bhaga diletakkan pelan. Pria itu agak memiringkan tubuhnya agar bisa menatap putranya lebih lekat."Cerita aja," kata Bhaga.Ardan mulai bicara. "Jadi gini, Pah. Di sekolah, tuh, lagi ada tugas kelompok, Ibu Guru suruh pilih kelompok sendiri, tapi enggak ada yang mau pilih Ardan. Terus Ardan disuruh Bu Guru buat sekelompok ma Bagas, tapi Keanu bilang ke Rafi—" Dia berhenti, mengernyit. "Kalau mama itu gila makanya aku aneh, akhirnya Bagas dan teman lainnya jauhin aku."Kalimat itu keluar dari mulut Ardan seperti fakta, bukan seperti luka. Dia tidak menangis saat mengatakannya dengan jelas. Bhaga mendengarkan seluruh cerita itu tanpa memotong sekali pun.Ardan kembali bercer
Terakhir Diperbarui : 2026-06-15 Baca selengkapnya