Elyssa membuka pintu, terlihat Marina membawa nampan berisi teh jahe hangat, sup, dan obat pereda demam.“Suruh Sean habisi ya, biar badannya cepat hangat. Ada obat juga, untuk jaga-jaga aja kalau Sean tiba-tiba demam.”Elyssa mengambil nampan itu. “Makasih banyak ya, Ma. Maaf ngerepotin.”“Iya, iya. Cepat rawat calon suamimu,” goda Marina.Elyssa hanya tersenyum penuh arti.Setelah Marina pergi, Elyssa duduk di samping ranjang. “Makan dulu ya, Mas, baru tidur.”Elyssa menyuapi Sean perlahan hingga sup dan teh jahe hangat itu tandas. Setelahnya, Elyssa mengelus dahi Sean yang mulai terasa hangat.“Lain kali, jangan lakukan hal gila seperti ini lagi, Mas. Aku mohon.” Suara Elyssa terdengar lembut.Sean meraih tangan Elyssa, menggenggamnya erat. “Aku hanya ingin kamu tau, aku tidak bisa hidup tanpamu, Elyssa. Aku lebih memilih kedinginan di luar daripada harus kehilangan kamu.”Mendengar pengakuan tulus itu, hati Elyssa yang sempat beku kini mencair.Pengkhianatan itu masih terasa perih
Last Updated : 2025-11-28 Read more