Tak ada informasi apa pun.Tak ada jejak.Tak ada petunjuk yang bisa dipegang.Satu-satunya yang semakin jelas adalah rasa panik yang makin mencekik mereka bertiga.Shandy berkali-kali memegangi dadanya, wajahnya pucat. Nafasnya memburu, sampai akhirnya Kaivan panik sendiri.“Om, Om kenapa?!”“Om pusing banget, Kai.” Shandy menahan kepala yang berdenyut keras. “Darah kayaknya tinggiku kambuh.”Elvaro menoleh. “Tahan dulu, Pak.”Tanpa pikir panjang, Kaivan memutuskan, “Om, kita pulang dulu. Aku antar Om Shandy pulang sekalian jemput Runi.”Shandy mengangguk dengan kondisi limbung. Mereka bertiga kembali ke mobil, dan Kaivan memacunya cepat namun tetap terkontrol.---Sesampainya di rumah Shandy, suasana sudah genting. Deva cemas setengah mati, tapi berusaha tampak kuat.“Papa kenapa?”“Tante, Om Shandy sepertinya darah tingginya kumat, Tante anterin Om ke kamar, atau perlu aku panggilkan dokter?”Shandy mengangkat tangan dan menggeleng. “Gak perlu, Kai. Om istirahat saja.”“Kai, kalau
Last Updated : 2025-12-10 Read more