MasukSejak kejadian kemarin, Arunika lebih sering diam. Tatapannya kosong, pikirannya melayang ke satu titik yang sama, wajah Kaivan yang menatapnya asing, suara yang dingin, kata-kata yang menuduhnya gila dan mengada-ada. Setiap mengingatnya, dadanya kembali terasa sesak, seperti ada tangan tak kasatmata yang meremas jantungnya pelan tapi menyakitkan.Namun Arunika menolak menyerah.Pagi itu, ia melangkah ke dapur dengan langkah mantap, meski tubuhnya terlihat semakin kurus. Di sana sudah ada Yara dan Bi Darmi yang sedang menyiapkan bahan makanan.“Loh, Run?” Yara refleks meletakkan pisau di atas talenan saat melihat Arunika membuka freezer. Matanya mengikuti gerak putri sambungnya itu yang mengeluarkan beberapa bungkus udang beku.“Aku mau masakin Kaivan,” ucap Arunika pelan tapi penuh tekad. “Udang saus tiram kesukaan dia sama sup iga.”Kalimat itu membuat suasana dapur mendadak sunyi.Yara dan Bi Darmi saling berpandangan. Ada kekhawatiran yang sama di mata mereka, tak terucap, tapi te
“Runi.”Suara Bu Melati memecah udara di dalam kamar itu. Satu panggilan sederhana, namun cukup untuk membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Termasuk Kaivan.Dan detik itu juga, dunia Arunika seperti berhenti berputar.Mata Kaivan yang terbuka, mata yang selama ini hanya ia tatap dari balik kaca ICU, mata yang ia mohonkan doa setiap malam, kini benar-benar menatap ke arahnya. Hidup. Sadar.Air mata Arunika langsung menggenang. Dadanya sesak oleh rasa haru yang membuncah, oleh rindu yang tak sempat ia peluk, oleh syukur yang tak tahu harus ia ucapkan bagaimana. Dengan langkah gemetar, ia melangkah masuk ke dalam kamar, mendekati ranjang itu perlahan, seolah takut semua ini hanya ilusi yang akan pecah bila disentuh.“Runi, kamu….” Pak Agam ikut bersuara, nada suaranya kikuk, wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan. Ia menatap Arunika lama, seolah baru menyadari kehadiran gadis itu setelah sekian detik.Arunika tak peduli. Pandangannya hanya tertambat pada Kaivan.“Kai…,” panggi
Begitu mobil berhenti di area parkir rumah sakit, Arunika bahkan tak sempat menunggu pintu dibukakan sepenuhnya. Ia sudah lebih dulu turun, langkahnya cepat, nyaris berlari,meninggalkan Yara dan Elvaro di belakang. Wajahnya tegang, napasnya tersengal, satu-satunya tujuan di kepalanya hanyalah Kaivan.Yara refleks hendak menyusul, tapi baru beberapa langkah, perutnya tiba-tiba menegang. Rasa kram menusuk membuatnya terhenti. Ia meringis pelan, telapak tangannya menekan perutnya sendiri.“Mas,” panggilnya lirih.Elvaro yang tadinya sudah melangkah mengejar Arunika langsung menoleh. Melihat ekspresi Yara, langkahnya berbalik arah tanpa ragu. Ia menghampiri istrinya dengan wajah cemas.“Kenapa, Sayang?” tanyanya, suaranya ditahan agar tetap tenang. “Sakit?”Yara menggeleng cepat, meski raut wajahnya tak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa tak nyaman itu. “Enggak cuma kram dikit. Aku gak papa.”Namun Elvaro tak percaya begitu saja. Ia menggenggam tangan Yara, lalu mengaitkannya di lenganny
Mobil melaju membelah jalanan sore dengan kecepatan yang dijaga, tidak terlalu cepat, tidak pula lambat. Elvaro fokus menatap jalan, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan kehati-hatian berlapis kecemasan. Sesekali matanya melirik ke kaca spion, memastikan keadaan di kursi belakang.Arunika tampak lemas. Tubuhnya bersandar pada sandaran jok, wajahnya pucat, bibirnya sedikit bergetar. Di belakang, Yara memeluknya dari samping, satu tangan melingkari bahu Arunika, satu lagi sesekali mengusap lengan atas gadis itu dengan gerakan menenangkan, gerakan seorang ibu, meski status itu masih terasa baru baginya.“Pa… yang cepat ya,” pinta Arunika lirih, suaranya tipis namun sarat desakan. Matanya menatap lurus ke depan, seolah jarak antara dirinya dan rumah sakit terasa terlalu jauh untuk ditoleransi.Elvaro menghela napas pelan. Ada dorongan besar dalam dirinya untuk menginjak pedal gas lebih dalam, tetapi rasa tanggung jawab menahannya. Ia tahu, satu keputusan ceroboh bisa berujung penyes
Liburan itu terasa hambar bagi Arunika.Biasanya, setiap kali menginjakkan kaki di tempat baru, Arunika akan menjadi orang paling sibuk membawa kamera, mengatur sudut, mengejar cahaya matahari, lalu tertawa puas melihat hasil potret yang ia ambil. Pantai selalu menjadi favoritnya. Debur ombak, langit luas, dan angin asin yang menerpa wajah kerap memberinya semangat hidup yang sulit dijelaskan.Namun kali ini, semua itu tak berarti apa-apa.Ia duduk sendiri di bangku semen menghadap laut, memandangi garis horizon yang perlahan memerah. Kamera tergantung di lehernya, tak tersentuh sejak pagi. Tangannya hanya memegang segelas es kelapa muda, es batu di dalamnya sudah hampir mencair, diaduk perlahan tanpa tujuan. Pikirannya jauh—tertinggal di sebuah ruang ICU, pada seorang lelaki yang hingga kini masih terbaring tak berdaya.Tanpa Kaivan, liburan ini terasa seperti kewajiban kosong.Langkah kaki pelan terdengar mendekat dari belakang. Arunika tak langsung menoleh, sampai sebuah suara lemb
Arunika duduk di bangku taman rumah sakit, tubuhnya sedikit membungkuk. Pandangannya jatuh pada kedua tangannya sendiri yang saling meremas tanpa sadar. Jari-jarinya dingin, telapak tangannya basah oleh keringat dan air mata yang tak kunjung kering. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban besar yang menekan dari dalam.Yara duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangan Arunika dengan lembut namun mantap—seolah ingin menyalurkan kekuatan yang tersisa.“Sabar ya, Run,” ucap Yara pelan, penuh empati. “Jangan dipikirin omongan orang itu. Kaivan sangat mencintai kamu. Dari dulu sampai sekarang.”Arunika perlahan mengangkat wajah. Mata beningnya sudah memerah, air mata menggantung di pelupuk, siap jatuh kapan saja. Bibirnya bergetar saat ia bicara.“Tapi, gimana kalau Kaivan jadi kayak gini gara-gara aku, Yar?” suaranya nyaris berbisik. “Dia… dia di mobil sama aku. Aku yang ngajak bercanda. Aku yang bikin dia ketawa. Terus…” Arunika tak sanggup melanjutkan. Kenangan itu terlalu menyakitkan. T







