Baik, aku lanjutkan dan rapikan dengan kaidah penulisan. Titik-titik tetap dipakai, emosi dijaga.Kaivan terbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah pucat dan rahang mengeras. Infus terpasang di punggung tangannya, monitor jantung berdetak stabil, tetapi tidak dengan pikirannya. Pandangannya kosong, menatap langit-langit seolah ada sesuatu yang hilang dan tak bisa ia raih kembali.Pintu kamar terbuka perlahan. Pak Agam masuk dengan langkah ragu, membawa kabar yang sejak tadi berputar di kepalanya.“Kaivan…,” panggilnya pelan.Kaivan tidak langsung menoleh. Butuh beberapa detik sebelum matanya bergerak, itu pun tanpa fokus. “Ada apa, Pa?”Pak Agam menarik napas dalam. Wajah pria paruh baya itu jelas gelisah. Ia ingin mengatakan semuanya—tentang masa lalu Kaivan, tentang alasan sebenarnya, tentang benang kusut yang selama ini disembunyikan, namun trauma Kaivan masih terlalu segar. Ia takut. Takut luka lama itu justru membuat Kaivan hancur lebih dalam.“Arunika….” Pak Agam menggantung
最終更新日 : 2026-01-31 続きを読む