Beberapa hari terakhir, Arunika belajar menenangkan dirinya sendiri.Bukan berarti lukanya menghilang. Bukan pula berarti ia tak lagi peduli. Hanya saja, ia berhenti memaksa, baik memaksa Kaivan untuk ingat, maupun memaksa hatinya sendiri untuk selalu kuat di depan semua orang.Ia tetap memperhatikan Kaivan. Diam-diam. Dari jarak yang aman.Pagi itu, suasana kantor terasa seperti biasa. Denting keyboard, suara mesin kopi, dan sapaan antarpegawai memenuhi udara. Arunika berjalan menyusuri lorong dengan langkah tenang, mengenakan blazer krem sederhana. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya terlihat lebih segar, meski tubuhnya masih menyimpan lelah.Saat itulah pintu lift terbuka.Kaivan melangkah keluar, berkas di tangan, wajahnya terlihat fokus, wajah yang dulu sangat ia hafal, bahkan dalam gelap sekalipun.Jantung Arunika berdetak lebih cepat.Namun kali ini, ia tidak goyah.Ia mendekat, tersenyum lembut, senyum yang tak menuntut apa pun.“Pagi, Kai-eh Pak Kaivan.”Kaivan berhenti melangkah
最終更新日 : 2026-01-19 続きを読む