Home / Romansa / Hasrat Terpendam Papa Tiriku / Bab 39. Kebohongan Olivia.

Share

Bab 39. Kebohongan Olivia.

Author: eslesta
last update Last Updated: 2025-11-10 15:28:09

Olivia duduk terpaku di depan layar laptop yang menampilkan spreadsheets rumit. Bibirnya membentuk senyum tipis, seolah menahan bahagia yang diam-diam bersemayam dalam hati. Ingatan hangat saat menghabiskan waktu bersama Adrian dan Nevan terputar seperti film tanpa jeda. Anak kecil itu, walau masih menyimpan rasa curiga dan menjaga jarak, perlahan mulai menerima kehadirannya. Ada harapan kecil yang menyelinap di balik sinisnya sikap Nevan.

Tiba-tiba, suara dentingan ponsel di atas meja memecah kebahagiaan itu. Olivia menoleh cepat, matanya menangkap notifikasi dengan nama Ruby yang muncul di layar. Dengan jari cekatan, ia membuka pesan itu.

Ruby : Pagi, Olivia. Keponakan Tante yang paling cantik. Udah sarapan belum? Tante cuma mau tanya ulang. Apa kamu jadi belikan tas?

Sebuah helaan napas keluar dari bibir Olivia. Ingatannya melayang ke hari kemarin di mal saat bersama Adrian, ketika dia sempat singgah di counter tas yang diidamkan Ruby. Beruntung Adrian tidak curiga, bahkan sempat m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 108. Apakah Suatu Pertanda?

    Olivia melirik ke samping, memperhatikan jemari Mariska yang mantap menggenggam setir. Jalanan siang itu cukup lengang dan sahabatnya itu tetap fokus menembus deretan ruko dan bangunan tua yang mereka lewati satu per satu.Mereka sedang dalam perjalanan meninjau beberapa lokasi yang dipertimbangkan Mariska untuk usaha kafenya.“Ris,” panggil Olivia akhirnya, memecah keheningan. “Lo yakin mau buka kafe? Lo kan nggak pernah benar-benar terjun di dunia itu. Keluarga lo dari dulu di pendidikan. Kenapa nggak sekalian pegang salah satu yayasan papa lo?”Mariska tidak langsung menjawab. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, seolah pertanyaan itu sudah sering ia dengar dan sudah lama ia siapkan jawabannya.“Gue nggak pernah ngerasa hidup di dunia pendidikan, Via. Biar Papa sama Mama aja yang sibuk di sana.”Olivia menghela napas pelan. “Tapi lo anak satu-satunya, Ris. Cepat atau lambat, semuanya bakal jatuh ke tangan lo.”Mariska terkekeh kecil, matanya tetap menatap lurus ke depan. “Justru

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 107. Yang Sudah Memeluk, dan Yang Masih Mendekat.

    Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja merayap di permukaan kolam renang. Adrian bersandar di kursi malasnya, menatap Olivia yang duduk tak jauh darinya. Rambut istrinya tergerai bebas, kulitnya disapa lembut cahaya pagi, namun sorot matanya tampak sedikit redup. “Kamu capek, Sayang?” tanya Adrian pelan. “Hmm? Eh? Duh, apa, Mas?” Olivia menoleh, seolah baru tersadar. Pantulan air kolam menari di wajahnya. “Nah, kan,” Adrian menggeser tubuhnya, tak lagi bersandar. “Aku cuma nanya, kok kamu kelihatan bingung.” Olivia tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti usaha daripada ekspresi bahagia. “Iya, Mas… sedikit.” “Lagi pikirin apa, Sayang?” “Pekerjaan di kantor lagi ramai banget. Untung ada Ayu sama Rayhan. Kalau nggak, mungkin aku sudah tumbang.” Adrian berpindah ke kursi malas Olivia. Ruang sempit itu justru membuat mereka terasa semakin dekat. Tanpa sadar, Olivia menyandarkan kepalanya di lengan Adrian, menikmati detak jantung suaminya yang stabil.

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 106. Harga Sebuah Kepercayaan.

    Olivia berdiri di depan lobi kantor PT. Fast Track, membiarkan hembusan angin sore mengibaskan ujung rambutnya. Pandangannya mengikuti arus mobil yang keluar-masuk area lobi, tapi tak satu pun berhenti terlalu lama. Jam di pergelangan tangannya kembali ia lirik.“Tadi katanya udah dekat,” gumamnya pelan, nyaris kalah oleh deru mesin kendaraan. “Kok sepuluh menit belum kelihatan, sih…”Ia meraih ponsel, ibu jarinya sudah siap menyentuh nama Adrian, ketika sebuah mobil familiar berbelok memasuki gerbang gedung perkantoran. Sorot matanya langsung berubah cerah.“Ah, itu dia.”Begitu mobil melambat di depannya, Olivia melangkah cepat, lalu membuka pintu penumpang.“Hai, Mas. Kok lama?” katanya sambil duduk dan menarik sabuk pengaman.Adrian menghela napas pendek, tangannya masih mantap di kemudi. “Tadi ada keributan di halte depan. Aku mau ambil jalur kiri, tapi nggak bisa. Macet total.”“Keributan apa?”“Jambret ketahuan. Dicegat warga,” jawab Adrian singkat, lalu menginjak pedal gas per

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 105. Api Kecil di Dapur Bisnis.

    Mobil yang dikemudikan Adrian melambat tepat di depan lobi gedung PT. Fast Track Logistic. Olivia melepaskan seatbelt, tubuhnya condong sedikit ke kanan. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut.“Makasih, Pak Suami,” katanya sambil tersenyum. “Hati-hati ya. Kabari aku kalau udah sampai Solaire.”Adrian tertawa kecil, meraih tangan Olivia dan mengecup punggungnya. “Siap, Sayang. Happy working, Nyonya Adrian.”Olivia membuka pintu, turun dengan langkah ringan sambil membawa paperbag berisi oleh-oleh. Ia melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobil itu kembali melaju.Begitu melangkah masuk ke lobi, Rayhan, dengan tas selempang menggantung di bahu, mengangkat tangan tinggi-tinggi.“Hai, Via!” godanya nyaring. “Pengantin baru, gimana bulan madunya?”Olivia tersenyum sambil mempercepat langkah. “Menyenangkan,” jawabnya singkat, lalu menoleh dengan senyum nakal. “Kamu kapan nyusul? Buruan cari perempuan baik-baik, Ray.”Rayhan terkekeh, ikut berjalan di sampingnya melewati pemeriksaan keamana

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 104. Hari-hari Setelah Sah.

    Olivia terbangun oleh dentuman petir yang memecah langit, begitu dekat hingga kaca jendela bergetar pelan. Matanya langsung terbuka, napasnya tercekat sesaat sebelum ia sadar ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik Adrian. Kehangatan tubuh suaminya membuat jantungnya perlahan tenang. “Ya Tuhan,” bisiknya lirih, suara hujan seperti tumpah dari langit. “Deres banget. Pantes petirnya serem.” Olivia mengangkat tangan Adrian dengan hati-hati, melepaskan diri pelan-pelan agar tak membangunkannya. Ia turun dari tempat tidur, melangkah mendekat ke jendela. Tirai tipis tersibak sedikit, memperlihatkan kilatan cahaya putih yang membelah langit pagi. “Kenapa, Sayang?” suara Adrian terdengar serak dari atas ranjang. Matanya menyipit, mengikuti siluet Olivia. Olivia menoleh, senyum kecil mengembang. Ia kembali mendekat, naik ke ranjang, lalu merebahkan diri kembali di samping Adrian. “Aku cuma mau nutup tirai. Tadi petirnya kelihatan jelas banget. Serem.” “Oh…” Adrian

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 103. Satu Bahagia, Satu Terluka.

    Adrian menata pakaian mereka satu per satu ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang. Kaosnya dilipat rapi, celana disusun sejajar, lalu gaun Olivia ia ratakan pelan. Bulan madu yang manis terasa seperti baru dimulai, padahal koper sudah kembali terbuka dan siap menelan kenangan. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Aroma sabun bercampur uap hangat menyusup ke kamar. “Udah kamu rapihin pakaian kita, Mas?” suara Olivia muncul lebih dulu, lembut. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya basah dan dibalut handuk kecil. Tetesan air masih jatuh ke lantai saat ia melangkah masuk. “Udah, meringankan tugas istri,” jawab Adrian tanpa menoleh. Olivia tersenyum. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata, duduk di pangkuan Adrian. Berat tubuhnya ringan, tapi kehadirannya langsung memenuhi ruang. “Sweet banget suami aku,” ujarnya sambil menyenderkan kepala sebentar. Adrian tertawa pelan. Tangannya refleks melingkar di p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status