Saat Gita semakin mendekat di dalam kamarnya, jarak mereka tinggal sejengkal. Tubuh Gita condong ke depan, tangannya sudah menyentuh lengan Raga, dan napasnya terasa jelas di wajah Raga. Belum sempat apa pun terjadi, ketukan pintu terdengar tiba-tiba. “Tok, tok, tok.” Suara dari luar langsung menyusul. “Mas Raga?” Itu suara Wulan. Gita langsung menghela napas panjang. Wajahnya jelas berubah kesal. “Ganggu mulu,” gumamnya pelan sambil berdiri. Gita melangkah ke pintu dan membukanya setengah. “Iya, ada apa, Lan?” Wulan berdiri di luar dengan wajah polos. “Mas Raga ada?” Raga langsung muncul di belakang Gita. “Iya, kenapa, Lan?” Wulan menatap Raga dan berkata cepat, seolah agak buru-buru. “Mas, ada tamu di rumah Tante Maya nyariin Mas.” Raga langsung mengernyit. “Tamu?” “Iya,” jawab Wulan singkat. “Kayaknya penting.” Raga menoleh sebentar ke arah Gita. “Bentaran ya.” Gita hanya mengangguk kecil, jelas masih bete. “Iya,” jawabnya singkat. Be
Terakhir Diperbarui : 2026-01-14 Baca selengkapnya