Sekitar lima belas menit kemudian, pintu otomatis supermarket kembali terbuka. Vanya keluar membawa dua kantong belanjaan, langkahnya pelan. Dari kejauhan, raut wajahnya terlihat tidak tenang, seperti menyimpan rasa bersalah yang belum sempat ia ucapkan. Raga yang masih bersandar di motornya menoleh saat Vanya mendekat. Begitu tiba di samping Raga, Vanya langsung membuka suara, suaranya agak tertahan. “Jull… maafin aku ya,” ucapnya pelan. “Aku terpaksa.” Raga menatapnya sejenak. Ia menurunkan rokok dari bibir, melemparkannya ke aspal, lalu menginjaknya sampai padam. Setelah itu baru ia bicara, nadanya santai, nyaris tanpa beban. “Nggak apa-apa, Van,” katanya. “Santai aja.” Vanya tersenyum tipis, tapi jelas senyum itu dipaksakan. Tangannya mengeratkan pegangan kantong belanjaan. “Aku beneran ngerasa nggak enak, sama kamu.” katanya lagi. “Maaf ya.” Raga menghela napas pendek, lalu meraih helm dan mengenakannya. “Udah,” katanya singkat. “Nggak usah dipikirin.” Ia me
Baca selengkapnya