Keesokan paginya, Raga sedang menyapu halaman rumah kos. Matahari belum tinggi, udara masih lembap, dan suara sapu lidi bergesekan dengan tanah terdengar pelan. Dari arah tangga bangunan baru, Marni muncul. Ia mengenakan daster tipis bermotif bunga, rambutnya masih terurai acak, seolah baru bangun tidur. “Pagi, Mas Raga,” sapa Marni sambil meregangkan badan sedikit lebih lama. Raga menoleh sekilas. “Pagi, Mbak.” Marni melangkah lebih dekat, berdiri tak sampai satu meter dari Raga. Tatapannya turun naik, memperhatikan lengan Raga yang tegang saat menyapu. “Rajin banget ya pagi-pagi udah bersih-bersih,” ucap Marni sambil tersenyum miring. “Biasa, Mbakk. Namanya juga kerja.” jawab Raga singkat, kembali fokus ke halaman. Marni terkekeh kecil. “Mas Raga tuh dingin banget. Bikin aku makin penasaran.” Raga berhenti menyapu sebentar, menoleh, menatap Marni datar. “Enggak lah, Mbak. Mbak belum sarapan?” Marni terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil lagi. “Belu
Last Updated : 2026-01-07 Read more