Anindya menghela napas pendek. Bukan kesal. Lebih ke lelah menghadapi tuduhan, dan terlalu malas untuk verifikasi. “Maaf, Kak, aku dapat kerja bukan dengan menjilat. Aku dapat pekerjaan ini karena relasi.”“Oh, jelas,” sahut Isabella cepat, senyum sinis mengembang. “Relasi dari om-om kamu, ‘kan?”Nada itu sengaja dibuat ringan, tapi tajam. Beberapa orang di lorong mulai memperlambat langkah, pura-pura sibuk tapi telinga mereka jelas menangkap arah percakapan.Anindya mengangguk kecil, seolah mempertimbangkan. “Wah, ternyata gosip cepat menyebar ya,” katanya santai. “Tapi nggak apa-apa, memang itu faktanya.”Senyum Isabella mengembang setengah. “Nah, jujur juga akhirnya.”“Bedanya,” Anindya menyambung tanpa terburu-buru, “mereka nerima aku bukan karena kenal calon suami aku. Tapi karena wajah aku cocok sama produk mereka. Itu yang dicari brand, ‘kan?”Isabella tertawa pendek, hambar. “Percaya diri banget.”“Harus,” balas Anindya datar. “Soalnya kalau aku sendiri nggak percaya sama valu
Última actualización : 2026-01-10 Leer más